Mahasiswa Sebut Kata 'Anarkis' Hanya Bahasa Pemerintah

9/28/2019 | 23:06 WIB

Bagikan:

FOTO (dok.CNBC Indonesia)

INSTINGJURNALIS.Com--Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jakarta Andi, Prayoga, menceritakan kondisi saat demonstrasi menolak rancangan Undang-Undang kontroversial di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa 24 September 2019 lalu. Menurut Andi, saat mahasiswa dipukul mundur polisi dengan gas air mata, mahasiswa berpencar tanpa komando.

“Ada yang di tol, GBK, dan Palmerah. Yang di tol itu terkepung. Massa kampus saya ada yang baru jam 2 malam keluar,” kata Andi dalam diskusi Polemik di Jakarta, Sabtu (28/09/2019) dikutip dari TEMPO.CO.

Mahasiswa asal STEBANK Islam Mr. Sjafrudin Prawira Negara Jakarta itu mengatakan, kerusuhan bermula saat Ketua DPR Bambang Soesatyo mengingkari janji untuk bertemu dengan mahasiswa pada pukul 16.00 WIB. Setelah melewati batas waktu yang dijanjikan, mahasiswa mulai gerah, dan mulai menggoyang-goyangkan pagar.

Masih dikutip dari TEMPO, Andi menilai hal tersebut wajar, sebagai respon mahasiswa yang kecewa. Kalaupun terjadi kerusakan, ia menolak hal tersebut digolongkan sebagai aksi anarkis yang merusak. Menurutnya hal itu karena mereka hanya melawan polisi yang menembakkan gas air mata untuk mengurai massa.

“Mahasiswa anarkis itu bahasa pemerintah terhadap kami,” kata dia.

Andi mengatakan, polisi lebih anarkis. Buktinya, kata dia, banyak rekannya yang mengalami luka-luka. "Mahasiswa UIN ada yang patah, anak Al-Azhar itu (terluka) parah banget. (Mahasiswa membuat) kerusakan itu tidak menaati aturan, tapi polisi juga menembak tidak mentaati aturan bahkan itu anarkis," kata Andi.

Pasca kerusuhan, kata Andi, mahasiswa sibuk berkonsolidasi di kampus masing-masing. Memastikan berapa kawan mereka yang belum pulang, atau menjadi korban dan dilarikan ke Rumah Sakit. “Kami fokus mensterilkan kampus masing-masing,” kata dia.

(Satria)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI