World Pharmacist Day : Obat Aman Untuk Semua

9/25/2019 | 20:32 WIB

Bagikan:
World Pharmacist Day : Obat Aman Untuk Semua

Di tulis oleh:
Drg. Irfan Aryanto

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa hari ini tanggal 25 September 2019, dunia memperingati sebagai World Pharmacist Day (WPD) atau Hari Apoteker Dunia.

Setiap tahunnya para apoteker memperingati WPD dengan berbagai tema menarik sesuai kondisi yang terkait obat-obatan atau penguatan apoteker itu sendiri.  Pada tahun 2014, tema WPD adalah  Akses ke Apoteker adalah akses kesehatan. 

Tema beberapa tahun silam ini dipromosikan dengan maksud meningkatkan peran apoteker agar mudah di akses oleh masyarakat terkait keamanan dalam penggunaan obat obatan. 

Sedangkan tema tahun ini, International Pharmaceutical Federation (FIP) atau Federasi Farmasi Sedunia mengangkat tema: Obat-obatan yang aman dan efektif untuk semua.

Oleh karena itu, PP IAI (Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia) menghimbau dan menggelar berbagai kegiatan yaitu

1. Edukasi terkait obat kepada siswa Sekolah Dasar dengan tema: Bersama Apoteker Mengenali Obat Sejak Usia Dini,
2. Pemasangan spanduk World Pharmacists Day 2019
3. Kampanye DAGUSIBU (Dapati, Gunakan, Simpan dan Buang) di area publik seperti Car Free Day, alun-alun, lapangan dan pusat perbelanjaan.

[CUT]

Berbagai macam kegiatan ini di gelar untuk mendekatkan profesi Apoteker kepada masyarakat.
Menurut penulis tema yang di angkat sangat relevan dengan kondisi hari ini Tingginya Penyalahgunaan obat-obatan oleh generasi muda menunjukkan hadirnya masalah serius dimasyarakat.

Menurut Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Reri Andriani mengungkapkan bahwa penyalahgunaan obat yang tidak baik dan tidak sesuai dengan ketentuan sudah menjadi masalah serius khususnya bagi generasi muda.

Bahkan penyalahgunaan dalam penggunaan obat dengan tujuan bukan untuk kesehatan serta digunakan tanpa mengikuti aturan dan dosis sesuai ketentuan akan berdampak serius terhadap kesehatan, seperti ketergantungan, adiksi, dan kerusakan organ hingga kematian.

Selain itu, masih minimnya jumlah apoteker di fasilitas kesehatan menjadi masalah yang perlu dicermati. Syukurnya, di Kabupaten Sinjai upaya pengadaan tenaga Apoteker di setiap fasilitas kesehatan telah terpenuhi melalui pengangkatan PNS.

Upaya ini bertujuan agar optimalisasi keamanan obat mendapatkan garansi di setiap kecamatan. Di telisik lebih jauh, keamanan obat di masyarakat terkait dengan bagaimana cara menyimpan obat di rumah dengan tepat.

[CUT]

Menurut Direktorat Jenderal Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan beberapa cara menyimpan obat dengan aman dirumah adalah:

1. Jauhkan dari jangkauan anak  anak.
2. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat.
3. Simpan obat ditempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung atau ikuti aturan yang tertera pada kemasan.
4. Jangan tinggalkan obat di dalam mobil dalam jangka waktu lama karena suhu yang tidak stabil dalam mobil dapat merusak sediaan obat.
5. Jangan simpan obat yang telah kadaluarsa.

Sedangkan secara khusus cara penyimpanan obat yang tepat di rumah adalah 1. Jangan menyimpan tablet atau kapsul ditempat panas dan atau lembab. 2. Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin (freezer) agar tidak beku kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan obat. 3. Sediaan obat untuk vagina dan anus (ovula dan suppositoria) disimpan di lemari es karena dalam suhu kamar akan mencair. 4. Sediaan Aerosol / Spray jangan disimpan di tempat yang mempunyai suhu tinggi karena dapat menyebabkan ledakan.

Hal hal seperti ini menjadi penting untuk disosialisasikan ke masyarakat. Bila cara penyimpanan obat tidak memenuhi persyaratan cara menyimpan obat yang benar, maka akan terjadi perubahan sifat obat tersebut, sampai terjadi kerusakan obat.

[CUT]

Selain penyimpanan yang tepat, masyarakat perlu juga mengenali tanda tanda kerusakan obat antara lain :

1. Pada obat tablet terjadi perubahan pada warna, bau dan rasa, timbul bintikbintik noda, lubang-lubang, pecah, retak, terdapat benda asing, menjadi bubuk dan lembab.
2. Tablet Salut terjadi perubahan salutan seperti pecah, basah, lengket satu dengan lainnya dan terjadi perubahan warna.

3. Kapsul menjadi lembek, terbuka sehingga isinya keluar, melekat satu sama lain, dapat juga melekat dengan kemasan.
4. Puyer terjadi perubahan warna, timbul bau, timbul noda bintik-bintik, lembab sampai mencair.
5. Salep / Krim / Lotion / Cairan terjadi perubahan warna, bau, timbul endapan atau kekeruhan, mengeras, sampai pada kemasan atau wadah menjadi rusak.

Dengan kegiatan mengenali obat sejak dini dirasakan sangat tepat dalam mengawal dan menjaga keamanan obat yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Tentu saja masalah ini memerlukan sinergitas yang tepat antara pengelola obat dengan partisipasi masyarakat dalam mengetahui ketentuan-ketentuan penggunaan obat.

Dengan edukasi yang tepat dan dilakukan secara konsisten, penyalahgunaan obat-obatan dapat diminimalkan sebesar mungkin.

Drg. Irfan Aryanto
Dokter Gigi Puskesmas Lappae
Pengurus Persatuan Dokter Gigi Indonesia Kab.Sinjai
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI