Walhi Sebut Banjir Luapan Sungai Walenne Bukan Bencana Murni, Tapi Imbas Kerusakan Lingkungan

7/24/2020 | 22:40 WIB

Bagikan:

INSTINGJURNALIS.Com--Banjir yang melanda tiga kabupaten di Sulawesi-selatan, Bone, Soppeng dan Wajo, telah berlangsung satu bulan lebih dan membuat lebih dari 2 ribu warga mengungsi.

Bencana banjir itu bukan semata-mata bencana alam. Tapi karena faktor alam yang rentan akibat eksploitasi oleh manusia dengan intensitas sangat tinggi. Alampun menjawab tindakan destruktif manusia.

Akibatnya, ketika curah hujan tinggi, banjir pun tak bisa dihindari dan menyebabkan puluhan desa dan kelurahan terendam banjir di sekitaran Sungai Walennae dan menenggelamkan puluhan hektar sawah yang siap panen di Kabupaten Bone.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Muhammad Al Amin, menyebutkan kerusakan lingkungan merupakan penyebab utama terjadinya bencana banjir.

"Jadi banjir yang terjadi di tiga daerah tersebut, pada dasarnya adalah banjir tahunan. Tapi seharunya bisa dihindari dan seolah-olah ini bencana alam murni, padahal ini juga akibat dari kerusakan lingkungan," kata Muhammad Al Amin, kepada Instingjurnalis.com, Jumat (24/07/2020).

Menurut dia, Daerah Aliran Sungai (DAS) Walennae telah dikategorikan DAS yang rusak, dimana hulunya telah terjadi kerusakan lingkungan karena penebangan hutan, sementara di bagian hilirnya terjadi pendangkalan. Itu disebabkan proses sedimentasi hulu ke hilir, yang menyebabkan banjir di Bone, Soppeng dan Wajo.

"Pada dasarnya, di hilir Sungai Walennae terjadi pendangkalan yang luar biasa, akibat pengerukan tambang pasir, sementara di hulunya (Danau Tempe) kondisinya mulai rusak," lanjutnya.

Ia menyebutkan, khususnya penambang pasir yang ada di Kabupaten Bone, memang tidak terkendali, dikerjakan secara serampangan dan dilakukan oleh perusahan yang tidak memiliki trac record yang baik, sehingga banjir itu terjadi karena akumulasi dari kerusakan lingkungan.

Bahkan kata dia, kondisi kerusakan lingkungan di Kabupaten Bone sangat parah, jika hal itu terus berlangsung maka nyawa masyarakat terancam.

"Jadi bupati khususnya untuk tidak bermain-main dengan kerusakan lingkungan karena dampaknya langsung ke warga," tegas Muhammad Al Amin.

Ia mencontohkan di poros Bone-Wajo tepatnya di Desa Welado, Kecamatan Dua Boccoe, kerusakan lingkungan terjadi menyebabkan amblasnya jalan, karena dikerjakan secara serampangan.

"Maka jika hal ini terus terjadi maka warga khususnya Bone Utara terancam akan terus kebanjiran," lanjutnya.

Jadi kata dia, pemerintah khusunya Bupati Bone tidak ditemukan adanya kebijakan yang mengarah pada perbaikan lingkungan dan telah melakukan pembiaran. Padahal saat ini kerusakan lingkungan yang terjadi sudah sangat parah.

"Memang pemerintah tidak peduli pada perbaikan lingkungan, ditambah oknum penegak hukum membekingi penambang ilegal ini. Sementara disisi lain kondisi lingkungan rusak di Bone sudah sangat-sangat parah," tutupnya.

(Mir)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI