Miris, Pengangguran Usia Muda Indonesia Ternyata Tertinggi di Asia Tenggara

5/05/2021 | 18:21 WIB

Bagikan:

Editor: Satria


INSTINGJURNALIS.Com--Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) penduduk usia 15-24 tahun merupakan kelompok pengangguran tertinggi, mencapai 20,46 persen per Agustus 2020. Tingkat pengangguran penduduk usia muda Indonesia ternyata tertinggi di Asia Tenggara.


Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran negara tetangga seperti Filipina, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia masih berada di bawah 15 persen. 


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Angka itu naik 1,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Sementara itu, angka pengangguran di Indonesia mencapai 9,77 juta orang, bertambah dari sebelumnya 7,10 juta orang. Sedangkan, TPT sebesar 7,07 persen, naik dari sebelumnya 5,23 persen.


Kondisi tersebut tentunya harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya, Indonesia mengalami bonus demografi pada periode 2020 - 2030. Artinya, jumlah penduduk berusia produktif yakni 15-64 tahun mencapai 70 persen dari total penduduk pada periode tersebut.


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menuturkan bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi, apabila RI tidak bisa memanfaatkan sumber daya manusia usia produktif. 


Bencana demografi yang dimaksud Bhima adalah Indonesia berpotensi masuk jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) setelah periode bonus demografi selesai.


Pasalnya, tidak ada persiapan angkatan kerja yang memadai guna menanggung dan mengkompensasi penduduk usia tidak produktif selama periode bonus demografi.


"Kalau tidak bisa kemudian manfaatkan bonus demografi dan tidak bisa manfaatkan SDM usia produktif, yang ada justru nanti akan menjadi bencana demografi," ujarnya dilansir dari CNNIndonesia.com, Rabu (05/05/2021).


Ironisnya lagi, lanjut Bhima, tingkat TPT usia muda Indonesia hampir setara dengan sejumlah negara gagal (failed state) akibat konflik, yang mengganggu stabilitas politik dan keamanan negara tersebut.


Sebagai perbandingan, data Bank Dunia menyebutkan TPT angkatan muda di Irak, negara yang penuh konflik mencapai 25,2 persen. Lalu, Yaman 24,2 persen, Suriah 20,8 persen, dan Somalia 19,8 persen. Sekilas saja tampak TPT angkatan muda RI tidak jauh berbeda dengan negara tersebut, yaitu 20,46 persen. 


"Negara seperti Irak, Suriah, Yaman salah satu indikator kegagalannya adalah angka pengangguran usia muda tinggi. Jadi, kalau kita bandingkan dengan negara gagal, itu menjadi ancaman yang nyata," terangnya.


Mengutip data BPS, tingkat pengangguran terbuka tertinggi justru berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yakni 13,56 persen dan SMA 9,86 persen. Sedangkan, TPT lulusan diploma III 8,08 persen dan universitas 7,35 persen.


"Selanjutnya, ada link and macht antara skill di jenjang pendidikan menengah dan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, karena masalahnya adalah kenapa penyumbang pengangguran paling besar datang dari SMK dan perguruan tinggi," terangnya.


Masih dilansir CnnIndonesia, Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati mengatakan TPT angkatan muda berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Sebab, absennya mereka di dunia kerja ikut mengurangi produksi atau output nasional yang merupakan penggerak perekonomian.


"Kalau orang menganggur pada usia produktif tersebut menunjukkan tidak ada nilai tambah yang dihasilkan pada kelompok itu. Kalau kelompok itu besar, artinya bonus demografi yang harus membuat mesin pertumbuhan ekonomi makin kuat, ini justru semakin lemah," katanya.


Dengan pertimbangan itu, ia memperkirakan target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 4,5 persen-5 persen sulit tercapai.


Belum lagi, selain pengangguran bertambah, tingkat kemiskinan pun melonjak akibat pandemi menjadi 27,55 juta pada September 2020. Jumlah itu membuat tingkat kemiskinan mencapai 10,19 persen dari total populasi nasional.


"Kalau melihat data 2020 ini (pertumbuhan ekonomi 5 persen) sulit dicapai, karena pengangguran tinggi sekali. Tingkat kemiskinan melonjak, jadi perlu kerja luar biasa keras untuk capai target 5 persen," katanya.


Bukan hanya soal TPT usia muda, Indonesia juga dihadapkan pada kenaikan jumlah pekerja di sektor informal. BPS mengungkapkan mayoritas angkatan kerja atau 60,47 persen setara 77,68 juta orang bekerja pada kegiatan informal.


Angka itu naik 4,59 persen dibanding Agustus 2019. Pekerja informal diliputi banyak ketidakpastian serta rentan pada guncangan ekonomi dan politik.


"Pengangguran bukan satunya indikasi Indonesia sakit, tapi yang lebih parah adalah pekerja banyak di sektor informal," terangnya.

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI