Inovasi 'Cake Kebun' Puskesmas Lappae Hadang Kasus Gizi Kurang

5/06/2020 | 20:19 WIB

Bagikan:
Inovasi 'Cake Kebun' Puskesmas Lappae Hadang Kasus Gizi Kurang
Dokter Gigi Puskesmas Lappae, Kecamatan Tellulimpoe Irfan Aryanto saat melakukan sosialisasi kepada ibu-ibu pada 22 November 2019 lalu

INSTINGJURNALIS.com - Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan 17,7 % balita usia di bawah 5 tahun (balita) masih mengalami masalah gizi.

Angka tersebut terdiri atas balita yang mengalami gizi buruk sebanyak 3,9%  dan yang menderita gizi kurang sebesar 13,8 %.
Sementara dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019, balita yang mengalami masalah gizi ditargetkan turun menjadi 17 %.

Melihat fakta tingginya angka gizi kurang di atas, akhirnya  mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten sinjai untuk melakukan upaya penyelenggaraan pelayanan publik  berupa pengolahan makanan bergizi tinggi dari bahan dasar daun kelor dan labu kuning yang diberi nama "Cake Kebun" .

Inovasi ini dicetuskan oleh dokter gigi Puskesmas Lappae, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai yang bekerja sekaligus  sebagai penyuluh kesehatan gigi kepada balita di pos pelayanan terpadu.

Kondisi itulah yang mendorong dokter gigi, Irfan Aryanto untuk melakukan langkah proaktif menciptakan makanan perpaduan daun kelor dan labu kuning yang akan menjadi cikal bakal lahirnya inovasi Cake kebun.

Menurut, Irfan cake kebun merupakan kue dari bahan dasar daun kelor dan labu kuning demi peningkatan derajat kesehatan melalui optimalisasi pemberdayaan tanaman lokal.

Apalagi kata dia, Tanaman kelor memiliki banyak manfaat karena memiliki kadar kalsium 7x lebih banyak dari susu. Dalam 1 cangkir daun kelor (21 gram) mengandung protein 2 gram, vitamin B6 19 % dari AKG (angka kecukupan gizi), vitamin C 12 % dari AKG, zat besi 11 % dari AKG, riboflavin (B2), vitamin A dan magnesium.

Sedangkan labu kuning kaya akan nutrisi seperti kalium, antioksidan dan vitamin. Nutrisi dalam 1 cangkir labu kuning rebus tanpa garam antara lain 49 kalori, 1,76 gram protein, 0,17 gram lemak, 12 gram karbohidrat, 2,7 gram serat dan 5,1 gram gula.

"Labu kuning di gunakan untuk memaksimalkan penyerapan makanan," ujar Irfan, Rabu (6/5/2020).

Dalam perkembangannya, kolaborasi Puskesmas dan Desa Kalobba berhasil mendorong warga untuk menanam tanaman kelor dipekarangan rumah mereka, yang selama ini hanya di anggap sebagai tanaman pembatas di pagar.

"Ibu ibu PKK yang dilatih dalam pembuatan cake kebun juga bertambah jumlahnya sehingga bisa praktek dirumah sendiri yang bisa diberikan langsung kepada balita mereka," tukas Irfan.

Dikatakan, Irfan bahwa beberapa balita yang konsumsi cake kebun, di nilai mengalami kenaikan berat badan yang diharapkan bisa berperan dalam meminimalisir angka gizi kurang.

"Inovasi ini sangat mudah direplikasi di desa yang lain karena pembuatannya sangat mudah dan rasanya cenderung disukai oleh para balita," pungkasnya.

(Satria)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI