Dampak Kekeringan, Petani di Sinjai Terancam Merugi Miliaran Rupiah

8/18/2019 | 20:48 WIB

Bagikan:

Dampak Kekeringan, Petani di Sinjai Terancam Merugi Miliaran Rupiah
Kepala BPBD Sinjai saat melihat langsung kondisi beberapa petak sawah petani di Lembang Gogoso, Kelurahan Mannanti, Kecamatan Tellulimpoe. Foto/Ist


INSTINGJURNALIS.com - Petani di Lembang Gogoso, Kelurahan Mannanti, Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai terancam merugi. Sebab, musim kemarau membuat tanaman padi tidak tumbuh maksimal.

Hujan yang tidak kunjung turun sejak beberapa pekan terakhir semakin membuat masyarakat kesulitan pasokan air.

Akibatnya, 30 Hektar sawah di wilayah itu meranggas kekeringan, membuat petani terancam merugi hingga miliaran rupiah.

Hal itu terungkap, setelah Satgas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sinjai melakukan pemantauan dan pendataan potensi dampak kemarau di Kabupaten Sinjai, Minggu (18/8/2019).

Pemantauan itu di pimpin langsung oleh Kepala BPBD Sinjai, Budiaman. 
Selain menyaksikan langsung kondisi padi para petani, Pusdalops-PB BPBD juga memantau tingkat ketersediaan air bersih di sekitar pemukiman warga.

Tim itu juga menyempatkan melihat langsung kondisi beberapa petak sawah. Menurutnya, masih berpotensi untuk diselamatkan dari kekeringan selama irigasi Balang Riri yang ada di sekitar dapat difungsikan secara maksimal.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Minasae I Lembang Gogoso, Ridwan bersama beberapa anggota kelompok tani lainnya memilih untuk bergotong royong dengan membiaya sendiri perbaikan irigasi sebagai satu-satunya harapan untuk menekan angka kerugian yang lebih besar bagi petani akibat kemarau.

Apalagi jika potensi sumber air yang tersedia di sekitar lokasi tidak dapat dimaksimalkan dalam waktu singkat ini, baik itu yang bersumber dari irigasi maupun dengan pembuatan sumur bor, maka kerugian yang saat ini sudah mencapai 30 sampai dengan 40 hektar.

"Hampir dapat dipastikan akan mencapai ratusan hektar," kata Ridwan.

Ridwan mengatakan bahwa, berbagai upaya pun telah dilakukan secara optimal. Hanya saja belum mendapat hasil yang maksimal, sehingga ia berharap segera ada langkah-langkah kongkret dari instansi terkait. Termasuk pembuatan sumur bor.

"Kalau hal ini bisa dilakukan, maka kerugian serupa bagi petani pada tahun-tahun mendatang dapat diminimalisir, sehingga harapan kami bukan hanya karena kondisi hari ini, tetapi juga untuk jangka panjang," ujarnya. (*)

Editor : Ardy
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI