Benturan kampanye hindari covid 19 dan Budaya Kedai

4/05/2020 | 16:26 WIB

Bagikan:
Benturan kampanye hindari covid 19 dan Budaya Kedai

Oleh: Drg. Irfan Aryanto
SATU persatu tenaga kesehatan berguguran. Mereka memasuki purna hidup saat menjalankan tugas menjadi benteng terdepan menghadapi virus corona atau covid 19. Tenaga medis yang terbatas ini harus menghadapi meledaknya jumlah positif corona di Indonesia yang hingga hari ini menyentuh angka 2.092 kasus.

Sebagai contoh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendata sebanyak 84 tenaga medis positif Corona yang tersebar di 30 Rumah sakit dan 1 klinik di Jakarta. Bahkan di Makassar , tokoh kesehatan sekaliber Prof Idrus Paturusi sempat berstatus positif corona yang detik ini kondisi kesehatan beliau berangsur pulih setelah mendapatkan perawatan di RSUD Wahidin Sudirohusodo. 

Banyaknya tenaga medis yang terpapar corona walaupun mereka menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) menjadi bukti tak terbantahkan akan situasi berbahaya yaitu membanjirnya pasien positif corona di tengah tengah masyarakat baik yang bergejala ataupun tidak bergejala (carrier).

Kesan sebagian besar masyarakat kita menyepelekan hal ini kian nampak dengan masih gencarnya kerumunan orang orang di berbagai tempat untuk tujuan yang tidak jelas. Mungkin kita akan memaklumi  mereka yang keluar rumah mengais rezeki untuk bisa bertahan hidup, tapi bagaimana dengan sebagian orang yang sekedar kongkow,  nongkrong atau hangout?

Lantas bagaimana sebenarnya kebiasaan suka ngumpul di Indonesia? Apakah sekedar kegiatan atau telah mendarahdaging sebagai bagian watak orang Indonesia? Ternyata Menurut hasil riset Frontier  Consulting Group, masyarakat Indonesia memang memiliki watak suka berkumpul.

Uniknya lagi perkembangan teknologi dan sarana komunikasi memudahkan orang orang  menentukan waktu dan tempat dalam berkumpul. Hadirnya grup berisi orang orang dengan kebiasaan atau kesukaan sama di media sosial adalah fakta bahwa hidup bersosial dan tak individual adalah warna kultur masyarakat kita.   

Beberapa literasi menyebutkan, suka berkumpul menjadi budaya mayoritas masyarakat yang melegenda melalui ungkapan “Mangan ora mangan ngumpul” atau terjemahannya makan tidak makan yang penting kumpul.

[CUT]

Menurut Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedillah Badrun, masyarakat Indonesia pada dasarnya berjiwa suka berkumpul atau biasa di sebut budaya kedai. Menurut definisinya budaya  kedai merupakan aktivitas sosial yang terbiasa dilakukan dengan berkerumun seperti halnya arisan, kerja bakti hingga kebiasaan nongkrong yang biasa dilakukan pemuda pemudi.

Kebiasaan suka ngumpul di era milenial ini menjadi habit atau kebiasaan yang sulit ditinggalkan anak muda karena telah di anggap kebutuhan bersosialisasi dengan rekan dan sahabat.

Sebagai kultur budaya Indonesia, suka ngumpul mengandung nilai positif dalam kehidupan. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa kultur ini harus membawa manfaat dan bukan mudharat, karena bila berdampak negatif maka suka ngumpul ini akan kehilangan spirit dan berujung sia sia.     

Maka lahirlah istilah social distancing atau membatasi diri dalam  pergaulan sosial sebagai antisipasi meredam laju tingginya virus corona. Dalam turunannya, terbitlah Maklumat Kapolri bernomor Mak/2/III/2020 yang memerintahkan jajarannya untuk membatasi kerumunan orang orang atau massa dalam jumlah besar, seperti lokakarya, konser musik, pekan raya atau festival.

Maka anda tidak perlu gusar bila saat berkumpul bersama sahabat di luar rumah segera dibubarkan oleh pihak berwajib. Anda tidak perlu ngotot apalagi melawan karena upaya ini di ambil demi kebaikan kita semua. 

Anehnya meskipun kampanye menjauhi kerumunan dalam rangka hindari penyebaran covid 19 menghujani lini masa di berbagai penjuru tetapi masih saja ditemukan masyarakat kita dalam jumlah besar berkerumun mengadakan kegiatan.

Entah apakah model masyarakat kita yang irasional atau tidak patuh dengan peraturan ataukah kultur suka ngumpul ini telah mengakar kuat dalam masyarakat kita sehingga himbauan himbauan menjadi tidak berarti.

[CUT]

Akhirnya inilah fakta yang terjadi. Kita tidak perlu menutup mata dengan realitas hari ini. Bahwa angka pasien positif covid 19 masih tinggi begitulah adanya. Bahwa masih ditemukan masyarakat kita berkumpul dalam jumlah banyak begitupun adanya.

Terus lakukan edukasi baik secara struktural melalui pemerintah tingkat terkecil hingga kultural melalui keluarga dan orang orang terdekat kita. Jangan berhenti melawan virus corona karena virus berbahaya itu juga tidak akan berhenti menyerang kita. Anda tinggal memilih: mau berdiam diri di rumah atau berdiam di rumah sakit , keduanya anda yang merasakan dampaknya. 

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI