Menguji Kemerdekaan kita

8/17/2020 | 13:07 WIB

Bagikan:

 


INSTINGJURNALIS.com - Udin berlari ke dapur, tempat ibunya memasak nasi.  “Bunda, bentar lagi acara 17 Agustus. Udin mau ikut lomba di kantor Desa seperti tahun lalu. Dulu hadiahnya coklat. Sekarang hadiahnya apa ya?”. Si Udin menarik narik daster ibunya dengan tatapan penuh harap. 


Si Udin yakin tahun ini ia bisa mendapatkan hadiah lagi seperti tahun kemarin. Baginya, 17 Agustus adalah hari riang gembira dan gegap gempita dengan lomba yang banyak dan hadiah melimpah.   


Si Ibu berjongkok. Menyamatakan posisi matanya dan pandangan udin. “ Sabar nak ya. Mungkin tahun ini lomba 17 Agustus tidak ada. Masih banyak Corona.” Si ibu membelai rambut putra semata wayangnya itu. Berharap si udin mau mengerti kondisi berbahaya akhir-akhir ini. 


Si udin mengangguk lemas. Ia belum mengerti apa hubungan lomba dan virus corona. Yang jelas,  hari itu harapannya akan hadiah langsung musnah.


Tidak ada yang salah bila moment 17 Agustus, bertepatan dengan Dirgahayu Republik Indonesia  ke 75, tahun ini terasa berbeda. Bagi seluruh rakyat Indonesia, memaknai 17 Agustus biasa dilakukan dengan kebersamaan yang di terjemahkan dalam berbagai lomba, perhelatan, kemeriahan dan keriuhan. 


Cara-cara ini mungkin tidak sepenuhnya benar, tetapi setidaknya cara-cara ini berhasil membangun kebathinan kita sebagai sebuah masyarakat dalam ikatan kebangsaan. 


Namun nuansa kemeriahan yang biasa dirasakan, kini tak akan sama. Ancaman Covid 19 yang merajalelala menuntut kita semua untuk menerapkan protokol kesehatan dalam berbagai aspek kehidupan.  Mungkin lomba-lomba dikurangi, kemeriahan pun menurun dan sorak sorai pun tidak sekencang tahun tahun sebelumnya tapi uniknya, kita menemukan dua hal baru sekaligus : Pertama, renungan massal kepada bangsa ini. Bahwa dalam sunyi sekalipun, makna dan kebanggaan merdeka sebagai bangsa tidak akan berkurang. 


Bahwa nilai kemerdekaan itu tetap tersemat kesakralan karena ada pengorbanan yang tidak sedikit di dalamnya. Kita hanya perlu merenungi dan menjadikan ilham. Bila pendahulu bangsa  rela berkorban nyawa untuk arti kemerdekaan,  lantas hari ini apa yang patut kita korbankan untuk arti kemerdekaan? 


Untuk menjawab itu, maka kita akan menuju point ke 2 : bila dulu penjajah memiliki wujud bangsa Belanda dan Jepang yang memporak porandakan daerah di Nusantara, maka hari ini berbentuk apakah penjajah itu? Kita akan sepakat bahwa penjajah hari ini memiliki bentuk lebih rumit karena berwujud sebuah virus yang mematikan. 


Bila dulu bangsa penjajah terlihat nyata, maka hari ini penjajah tersebut tidak nampak oleh mata tetapi dampaknya sangat berbahaya.


Bila dulu tembakan dapat membunuh pribumi, maka hari ini hembusan nafas yang tidak terlindungi oleh masker dapat menjadi pembunuh saudara sendiri. 

Bila dulu, bom yang dijatuhkan dari pesawat penjajah dapat membunuh banyak orang sekaligus, maka kini bersin yang tidak tepat dapat menghilangkan nyawa banyak orang sekaligus. 


Bila dulu, penjajah ditandai  karena membenci pribumi, maka hari ini tanpa kebencian pun, penjajah penjajah kecil itu bisa berpindah dengan mudah dari manusia satu ke yang lainnya.


Kita menyadari bahwa perjuangan sekarang tidak membutuhkan senjata dan kekuatan, tapi yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif sebagai ujung tombak perlawanan. Kesadaran yang berasal dari pemahaman yang tepat, bukan berdasar atas tuduhan tidak jelas dan rentan akan hoax. 


Kesadaran yang tumbuh karena melihat korban bergelimpangan dimana-mana akibat protokol kesehatan yang diabaikan dan diremehkan. Kesadaran yang setiap orang miliki dan tidak mudah berganti hanya karena kecurigaan konspirasi dibalik covid 19. 


Oleh karena itu, Ahmad Yurianto, Jubir penanganan virus corona menyebutkan setiap orang hari ini bisa menjadi pahlawan. Ketika kita semua bertekad melawan penjajah hari ini, maka jawaban pertanyaan nomor 1 di atas bahwa yang kita korbankan untuk menjadi pahlawan adalah: rasa egoisme. 


Saya mendefinisikan mengorbankan rasa egoisme disini berarti kita komitment dengan protokol kesehatan yang berlaku dan tidak bertindak sesuai keinginan pribadi. Bukankah kepentingan umum harus lebih prioritas dibanding kepentingan pribadi?.


Tanpa bermaksud mengabaikan fakta fakta yang terjadi, mungkin inilah saatnya kita menguji kemerdekaan itu sendiri. Apakah kita masih terbelenggu dengan sikap ego, padahal di sekitar kita korban jiwa terus bertambah atau kita merdeka sebagai pelindung orang orang yang kita cintai dengan terus meningkatkan kewaspadaan.  


Tak perlu menunggu keluarga kita menjadi korban keganasan covid 19 untuk menjadi peduli. 


Oleh: drg. Irfan Aryanto

Dokter gigi Puskesmas Lappae


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI