Tim BPCB Sulsel Kaji Pelestarian Cagar Budaya di Cenrana Bone

12 September 2019 | 15:59 WIB

Bagikan:

INSTINGJURNALIS.com - Sebanyak 17 orang Tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (BPCB Sulsel) melakukan survei dan pemetaan potensi cagar budaya di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Kamis (12/9/2019)

Tim tersebut terdiri dari, arkeolog, tenaga teknis, dan akademisi dari Universitas Hasanuddin.

Kegiatan survei dan pemetaan ini merupakan tahapan dari kajian pelestarian cagar budaya, untuk mengidentifikasi potensi cagar budaya di Kecamatan Cenrana.

Kecamatan Cenrana, merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bone yang berdasarkan penelitian arkeologi maupun kajian naskah Lontara memiliki potensi cagar budaya berupa situs-situs arkeologi yang terkait dengan jejak sejarah Cenrana. Jejak kesejarahan tersebut erat kaitannya dengan Kerajaan Bone.

Salah satu situs yang telah dilindungi sebagai cagar budaya yaitu Kompleks Makam La Patau Matanna Tikka. Di kompleks makam ini terdapat makam La Patau Matanna Tikka yang merupakan Raja Bone yang memerintah pada 1696-1714. Selain itu di kompleks makam ini, terdapat juga makam para istri La Patau dan tokoh lainnya.

Selain kompleks makam ini, juga terdapat tinggalan lain yaitu berupa makam-makam kuno, sisa struktur benteng, sumur bersejarah, dan jejak pemukiman tua berupa sebaran fragem keramik dan bekas tiang rumah.

Koordinator Lapangan tim kajian, Iswadi menyebutkan bahwa kegiatan ini dilakukan mulai 11-18 September 2019, dengan memfokuskan pada identifikasi dan pemetaan situs-situs arkeologi dan sejarah yang berpotensi sebagai cagar budaya.

"Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi data penting khususnya bagi Pemerintah Kabupaten Bone dalam merumuskan kebijakan pelestarian dan pengelolaan cagar budaya di Kecamatan Cenrana," ujarnya.

Sehingga kata dia, masyarakat dapat merasakan kebermanfaatan dari cagar budaya yang terdapat di Kecamatan Cenrana.

Adapun akademisi yang terlibat dalam kajian ini yaitu Dr. Muhlis Hadrawi, ahli Filologi dari Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dan Yadi Mulyadi, M.A dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, yang juga merupakan saah seorang Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan. (*)

Editor : Satria
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI