Dua Kapolres-Kasat Berganti, Kasus Mafia Pangan BPNT di Bone Belum Tuntas

11/02/2021 | 12:11 WIB

Bagikan:

Satria


INSTINGJURNALIS.Com--Dugaan permainan dalam Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kabupaten Bone diusut sejak pertengahan Tahun 2020 lalu. Mulanya polisi melakukan full baket termasuk memeriksa tiga penyalur yang berada di Kecamatan Tenate Riattang Timur sebagai langkah pertama melakukan penyelidikan. 


Sayangnya, setahun lebih kasus tersebut telah bergulir. Dua kali Kapolres berganti. Mulai AKBP Try Handoko hingga kini dijabat AKBP Ardyansyah, tidak terhitung AKBP I Made Ary Pradana yang saat itu awal penyelidikan kemudian dimutasi sebagai Wakil Direktur Lalu Lintas (Wadirlantas) Polda Kalimantan Barat (Kalbar). 


Sedangkan Kasat Reskrim Polres Bone sudah beberapa kali berganti dan mengusut kasus tersebut, namun hasilnya masih nihil. Mulai AKP Pahrun yang dimutasi sebagai Kasubbagkum BagSumda Polres Bone, AKP Ardy Yusuf sebagai Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Ujung Pandang. Dan terbaru AKP Benny Pornika S.I.K yang sebelumnya bertugas di Polda Sulsel sebagai Panit 1 Unit 2 Subdit 3 Disreskrimum.


Kasat Reskrim Polres Bone, AKP Benny yang dikonfirmasi mengaku proses kasus tersebut memang membutuhkan waktu. "Kalau korupsi tentu membutuhkan proses (dibanding dengan kasus pidana umum)," singkat Benny, Selasa (02/11/2021). 


Dugaan penyalahgunaan Program pemerintah melalui Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kabupaten Bone untuk masyarakat miskin mencuat. Ibarat bau kentut (maaf, red), aromanya tercium kemana-mana namun sulit dibuktikan. Bahkan, dugaan pelanggaran itu telah terjadi bertahun-tahun.


Terbitan INSTINGJURNALIS.Com dengan judul "Program BPNT di Bone Sarat Penyimpangan, Begini Modusnya" tanggal 29 April 2020 lalu, memberikan indikasi ada permainan di tubuh program Kementerian Sosial itu. 


Modusnya, keluarga penerima manfaat (KPM) hanya mendapatkan jatah 23 butir telur, beras 18 kg dan 2 ekor ayam selama dua bulan (Januari dan Februari), dari total anggaran 300 ribu per kepala, artinya masyarakat harusnya menerima bantuan perbulannya senilai 150 ribu


Misalnya, AN warga Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone yang menerima bantuan pemerintah melalui KPM mengakui ketimpangan itu. "Kami hanya menerima 9 kilo beras, 11 butir telur dan 1 ekor ayam per bulannya," katanya saat diwawancarai langsung beberapa waktu lalu.


Jikalau diasumsikan, harga beras biasa mencapai 8 ribu per kilogram ditambah 11 butir telur dan 1 ekor ayam dengan harga 35 ribu, masyarakat hanya menerima jatah 117 ribu per bulannya yang seharusnya masyarakat menerima 150 ribu, artinya selisih dari setiap kepala mencapai 30 ribu per bulannya.


Sementara diketahui, pemerintah pusat kembali merevisi aturan BPNT untuk bulan Maret dan April 2020 dari yang sebelumnya 150 ribu menjadi 200 ribu.


Awak media kembali melakukan penelusuran pada bulan Maret-April ini. Hasilnya, kembali ditemukan fakta selisih mencapai 70 ribu.


RM salah seorang warga Kecamatan Tanete Riattang Timur menuturkan paket bantuan yang diterima dari agen hanya 2 karung beras seberat 20 kilogram dengan tambahan 100 butir telur selama dua bulan."Iye, saya terima 2 karung beras itu 20 Kg, dan 100 butir telur atau 3 rak lebih sedikit," kata RM yang minta namanya disamarkan.


Senada disampaikan, CR warga di salah satu desa di Kecamatan Cina, juga menyatakan hal yang sama,. "Iye 20 kg beras dan 3 Rak lebih 10 biji telur,” terangnya.


Parahnya, oknum-oknum serakah yang menyelewengkan anggaran BPNT hanya memberikan 6 rak telur kepada KPM. Hal ini terjadi di Kelurahan Toro Kecamatan Tanete Riattang Timur.


"Kemarin yang ambil di Toro ada 3 karun beras ditambah 25 btr telur, ada juga yg ambil 1 karun beras ditambah 100 telur ada juga yang hanya 6 rak telur," beber salah satu warga yang minta namanya dirahasiakan.


Diketahui, di Kabupaten Bone jumlah KPM mencapai 54.543. Kalau rata-rata per bulannya dipotong mencapai 25 hingga 30 ribu per kepala, artinya ditemukan tindak pidana penyalahgunaan anggaran BPNT hingga mencapai 1.3 Miliar perbulannya.


Bisa dibayangkan, berapa besar setahun. Jadi kalau 1,3 M dikalikan 12 bulan menembus hingga 15 Miliar. Wow, angka yang cukup fantastis. Hitungan-hitungan itu, hanya ilustrasi dan apabila dugaan itu benar adanya, bisa saja hasil hitungan itu cocok. Hanya saja, perlu diketahui itu baru memakai angka atau hitungan minimal. 



Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI