TSMpGUd8BUMoGUMoTSO6TSM7Ti==

Kabupaten Bone dan Tanah Toraja Dicap Sebagai Daerah Termiskin di Sulsel, Kok Sinjai Tidak?

 


INSTINGJURNALIS.COM   Jauh sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis data kemiskinan dan ketimpangan di setiap daerah Kabupaten, tercatat akhir Desember 2022. 


Dari data yang dirilisnya tersebut, 9 daerah di Sulsel masuk kategori termiskin dengan angka kemiskinan di atas 10 persen diberbagai indikator dan fariabelnya termasuk Kabupaten Pangkep, Jeneponto, Luwu, Luwu Utara, Enrekang, Tana Toraja, Kepulauan Selayar, Toraja Utara dan Bone.


Sedangkan salah satu daerah di Sulsel termasuk wilayah kecil yang memiliki 9 Kecamatan yakni Kabupaten Sinjai sendiri dengan persentase penduduk miskin di tahun 2022 mencapai 8,80 persen dari total penduduknya.


Angka tersebut mengalami penurunan setiap tahunnya. Sebelumnya terdapat 8,84 persen pada tahun 2021 dari total penduduknya dan 9,00 persen pada tahun 2020.


Menanggapi data tersebut, Kepala BPS Kabupaten Sinjai, Arif Miftahuddin mengatakan data tersebut diperoleh berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dengan mengukur kemiskinan menggunakan berbagai konsep dan indikator sebab kemampuan disetiap wilayah yang memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya dan pendekatan tersebut, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. 


“Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan dan sejak tahun 2002 sudah kita rilis setiap kabupaten/kota,” katanya.


Kemudian dijelaskannya lagi bahwasanya Kabupaten Sinjai keluar dari kemiskinan disebabkan dua program pengentasan kemiskinan yang selama ini dinilai cukup berhasil yang diprogramkan oleh Pemkab Sinjai yakni mengurangi beban kemiskinan dan pemberdayaan kemiskinan.


Menurutnya ada dua program pemerintah Sinjai yang menjadi penyebab keluar dari kemisikinan, yakni adanya dilaksanakan program seragama sekolah gratis dan terlaksananya dari sektor kesehatan melalui program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari Pemerintah Pusat dan program Jamkesda Plus dari Pemkab Sinjai. 


“Masyarakat yang tidak terlayani di program KIS, Pemda telah menganggarkan puluhan miliar dari APBD untuk program kesehatan gratis selain itu juga masayarakat Sinjai terbantu di sektor pendidikan karena adanya program seragam sekolah gratis” jelasnya. 


Selain itu juga Program perlindungan sosial, seperti program sembako, Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Subsidi Upah (BSU) dan bantuan sosial lainnya peruntukannya dinilai tepat sasaran sehingga turut mempengaruhi menurunnya angka kemiskinan di Sinjai.


Selanjutnya, kata Arif, faktor yang mempengaruhi berkurangnya angka kemiskinan di Sinjai adalah pemberdayaan ekonomi UMKM yang semakin bergeliat. 


“Dari tahun ke tahun angka kemiskinan di Sinjai menunjukkan tren penurunan. Terakhir berada di angka 8,80 persen. Ini suatu kemajuan yang sangat menggembirakan karena kita ketahui selama dua tahun kita dilanda Covid-19, tetapi Sinjai masih mampu menurunkan angka kemiskinan.” “Tentu ini semua tidak lepas dari kinerja Pemkab Sinjai bersama semua pihak,” pungkasnya. **Satria 



BERLANGGANAN ARTIKEL, IKUTI KAMI : [ADS]


Komentar0