Pemuda Pewaris 'Nabi' di Musywil XVII Pemuda Muhammadiyah Sulsel

6/21/2019 | 21:43 WIB

Bagikan:
Pemuda Pewaris 'Nabi' di Muswil XVII Pemuda Muhammadiyah Sulsel

Oleh : Muhammad Solihin
MUSYAWARAH Wilayah (Musywil) Pemuda Muhammadiyah Sulsel bakal dihelat pada 28-30 Juni 2019.

Muswil ke 17 Pemuda Muhammadiyah Sulsel tersebut, akan dipusatkan di Kota Parepare. Para kader terbaik Pemuda Muhammadiyah menyambut gembira agenda akbar tersebut.

Gagasan demi gagasan akan bermunculan, inilah salah satu momentum terbaik untuk kembali melahirkan sosok Pemimpin Muda Islam di Sulawesi Selatan.

Pemuda Muhammadiyah sebagai penyambung lidah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam menyampaikan Firman Allah dan Sunnah, adalah wajib dihormati, selama apa yang disampaikan tidak bertentangan dengan Firman Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.

Baik buruknya seorang pemimpin, khususnya pimpinan wilayah pemuda muhammadiyah bukanlah diukur dari banyaknya pengurus dan anggota aktif, tapi seberapa banyak dia memberikan manfaat bagi umat manusia terkhusus masyarakat sulawesi selatan, terutama manfaat ilmu Islam dan meningkatkan keimanan umat Islam, juga menjaga kerukunan umat dengan menebar segala bentuk kebaikan.

Tantangan terbesar kedepan pemuda muhammadiyah adalah terpecah belahnya umat hanya karena perbedaan sikap para pimpinan yang juga sekaligus sebagai ulama muda.

Pemuda Muhammadiyah dituntut untuk hadir sebagai agen pencerahan ummat, sebagai ulama dan pemimpin Muda yang mampu mempersatukan, bukan malah membuat kelompok untuk memecah belah ummat.

Dikotomi wacana yang berkembang terkait adanya kelompok anti Islam dan kelompok yang peduli islam sangat menyesakkan nafas silaturrahim dan melemahkan semangat ukhuwah.

Nabiullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mewariskan keteladanan yang buruk. Sudah semestinya semangat ukhuwah Islam terwujud.  Kitab yang dibaca sama, hadits yang diamalkan sama, lantas kenapa penerapannya berbeda, pengamalannya berbeda? Seolah sumber yang sama itu menjadi pembeda dan pemecah.

Akal dan niat menjadi pemicu stimulus kita untuk bergerak dalam merespon setiap fenomena yang ada. Niat dari para penyampai ajaran tersebut juga sangan mempengaruhi psikologi ummat, sehingga dibutuhkan suatu kearifan dan kebijaksanaan dalam menyampaikan ajaran kebajkan yang telah diwariskan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Pemuda Muhammadiyah menjadi penopang utama dalam menjaga konsistensi dan kemurnian ajaran Nabi.

Jika setiap pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan para kadernya mengajarkan ilmu untuk difahami dan diamalkan demi kemaslahatan bersama bukan atas dasar ego, maka ilmu yang didapat akan sangat mencerahkan, tidak akan mengkotak-kotakkan antara satu dengan yang lainnya, karena begitulah sejatinya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mewariskan mutiara Iman.

Sepanjang tahun politik di Indonesia, ummat islam dirundung gelisah dan fitnah. Media virtual ramai mempertontonkan sikap saling menghujat, saling fitnah, sikap yang merawat kecurigaan sesama anak bangsa. Suhu Politik yang tidak sehat telah menyeret kewarasan kita untuk terus saling menghujat.

Selaku pewaris "Nabi", alangkah bijak jika Akhlak dan perilaku seorang ulama muda Muhammadiyah mencerminkan Akhlak dan perilaku Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Begitu juga ucapan dan perkataannya lembut, sejuk dan menenangkan, bukanlah mengumbar amarah dan fitnah. Jikalau suatu informasi yang bersifat fitnah tersebar, sebaiknya disambut dengan langkah tabayyun. Itulah yang layak diwariskan kepada umat, bukanlah mengumbar kebencian antar sesama Umat Islam.

Dengan pandangan dan sikap hidup yang jujur dan ikhlash, tentunya kita bisa melihat dengan mata dan hati yang paling jernih, seperti apa sesungguhnya Pemuda pewaris Nabi Muhammad SAW. (*)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI