Cerita Petani Merugi Akibat Banjir di Bone, Terpaksa Jual Gabah Murah

8/30/2021 | 19:47 WIB

Bagikan:

Musriandi


INSTINGJURNALIS.Com--Hujan dengan intensitas tinggi yang terus melanda membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Bone dilanda banjir. Tak terkecuali areal persawahan. Akibatnya, padi para petani sudah mulai membusuk. 


Kondisi ini membuat para petani merugi. Sebab, hasil panen mereka turun lantaran jumlah gabah yang dihasilkan lebih sedikit. Selain itu, kualitas gabah yang menurun membuat harga jual diprediksi anjlok. "Kami terpaksa menjual dengan harga yang murah karena kualitas gabah memang rusak," kata Suhartang, salah satu petani di Kecamatan Cenrana. 


Menurut dia, akibat curah yang tinggi harga padi setiap karungnya menurun 20 hingga 30 persen. "Karena kondisi gabah yang kurang baik membuat para juragan terpaksa harus membeli murah, bahkan dalam satu karung gabah besar ada pemotongan mulai dari 20 hingga 30 kg," tambah Suhartang. 


Selain berkualitas buruk, proses panen di dalam air juga menyulitkan petani. Panen yang bisa diselesaikan hanya satu hari menggunakan alat modern terpaksa harus menunggu dua atau tiga hari. 


"Untuk panennya biasanya selesai dalam waktu satu hari ini harus menunggu beberapa hari, ditambah gabah terus diguyur hujan akan berdampak pada kualitas," jelas Suhartang. 


Petani lainnya, Asri mengatakan bahwa padi yang sudah dipanen beberapa hari lalu, saat ini sulit untuk dijemur karena hujan yang turun setiap hari sehingga padi dengan kualitas bagus sulit didapat.  


"Hampir setiap hari turun hujan sehingga kami kesulitan untuk menjemur gabah. Gabah basah akan berpengaruh pada harga karena kualitas beras yang akan dihasilkan kurang bagus" katanya, Senin, (30/08/2021). 


Ia khawatir gabah yang tidak dijemur dan disimpan terlalu lama akan membusuk, seratusan petani yang sudah memanen terpaksa menjual gabah dalam keadaan basah ke tengkulak dengan harga lebih rendah.   


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI