Putus Sekolah Capai 28 Ribu Orang, Pengamat: SDM Kabupaten Bone Terancam

06 August 2019 | 04:53 WIB

Bagikan:

Angka putus sekolah di Bone capai 28 ribu orang, bahkan hal ini akan mengancam SDM kedepannya.

INSTINGJURNALIS.Com--Pengamat Pendidikan Kabupaten Bone, Andi Saiful Marfian mengungkapkan, pemerintah perlu melakukan intropeksi terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Menurutnya, capaian kinerja pemerintah di bidang pendidikan tak menunjukkan hasil yang signifikan.

Ia menyoroti, hal yang seharusnya menjadi perhatian utama adalah masih tingginya angka putus sekolah. Mengutip data, Andi Saiful mengatakan tahun 2019 terdapat 28 ribu siswa usia wajib belajar (SD dan SMP) yang tidak menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun.

Menurutnya, faktor utama penyebab tingginya angka putus sekolah adalah ketidakmampuan masyarakat memenuhi biaya pendidikan.

“Kemiskinan menjadi sebab utama angka putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya, dan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut sumber daya manusia (SDM) akan terancam,” kata Andi Saiful, kepada Instingjurnalis.Com, Selasa (06/08/2019).

Masih tingginya angka putus sekolah dan siswa yang tidak melanjutkan pendidikan, dinilainya, merupakan cerminan masih terbatasnya akses pendidikan yang bisa dijangkau masyarakat. Padahal, kata dia, dari tahun ke tahun, anggaran pendidikan nasional telah mengalami kenaikan signifikan.

"Anggaran pendidikan yang seharusnya diperuntukkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, justru dikomersilkan oleh guru itu sendiri, seperti contohnya mantan Kepala Sekolah SMA 3 Bone, yang harus dijerat hukum karena menggunakan anggaran tersebut untuk kepentingan pribadi, dan paling hangat kasus korupsi PAUD," jelasnya.

Dan tentunya akan berdampak pada orangtua siswa yang menginginkan anak-anaknya, terutama anak perempuan segera menikah dibandingkan harus sekolah. "Penyebab putus sekolah mulai dari karena ingin menikah muda sampai ingin bekerja untuk membantu orang tua, maka kembali penyebabnya adalah beban hidup," katanya.

Maka selain menuntaskan permasalahan kemiskinan, yakni perlunya edukasi dan sosialisasi terhadap efek yang ditimbulkan akibat pernikahan dini. Karena minimnya pengetahuan tentang berbagai dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini tersebut.

"Perlu ada sosialisasi atau tindakan langsung berupa pelatihan yang dibuat versi anak-anak sehingga materinya mudah dipahami oleh anak, pembelajaran kepada orangtua bila usianya masih tergolong anak-anak maka perlu dikasih advokasi ke orangtua calon mempelai, pelatihan di lingkungan sekolah," harapnya.

Sebelumnya, Jumlah anak putus sekolah di Kabupaten Bone mencapai 28 ribu. Tingginya angka putus sekolah dipicu oleh perkawinan anak diusia dini dan perceraian. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Bone, Ambo Dalle. Kata dia, kondisi tersebut menjadi perhatian serius agar tidak banyaknya anak mengalami buta huruf.

“Ini tugas kita bersama untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar anak yang putus sekolah bisa berminat kembali bersekolah, di kejar paket atau sekolah formal lainnya,” kata Ambo Dalle beberapa waktu lalu.

(Muhammad Ram)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI