Ma’rimpa Salo dalam ejaan Kekinian dan Kedisinian

10/21/2019 | 20:23 WIB

Bagikan:
Ma’rimpa Salo dalam ejaan Kekinian dan Kedisinian


  • Oleh:
  • Drg. Irfan Aryanto

DALAM upaya melestarikan kearifan lokal, event bernuansa budaya di Kabupaten Sinjai telah tersaji beberapa hari yang lalu. Tradisi bernama Ma’rimpa salo yang bermakna penangkapan ikan di sungai dengan cara menghalau ikan dari arah hulu menuju muara merupakan agenda rutinan dalam kalender kepariwisataan Kabupaten Sinjai.

Sejak turun temurun, ma’rimpa salo merupakan warisan kebiasaan para leluhur di kabupaten Sinjai yang hingga kini masih dipertahankan.

Kegiatan Ma’rimpa salo merupakan bentuk ungkapan rasa puji dan syukur kepada Allah swt atas limpahan Lao ruma (panen padi) dan keberhasilan Mappaenre bale (panen ikan) setiap tahunnya.

Dalam hikayat, Ma’rimpa salo merupakan hasil kombinasi eksistensi adat istiadat  dan eksistensi ekosistem biota laut darat. Dahulu kala Ma’rimpa salo dilakukan dengan cara meracuni ikan-ikan agar mudah ditangkap.

Tetapi kegiatan ini oleh Raja dan penghulu adat di anggap mencemari lingkungan karena banyak binatang ternak mati setelah meminum air di sungai. Berbagai tanaman layu setelah disiram dengan air sungai yang telah terkena racun.

Maka keluarlah larangan keras melakukannya namun demikian masih banyak yang melakukan secara sembunyi-sembunyi.

[CUT]

Menyadari hal ini, para leluhur bermusyawarah mencari jalan terbaik sehingga diputuskan kegiatan Ma’rimpa salo dilakukan dengan jalan menghalau ikan dari hulu ke muara sebab di anggap tidak merusak lingkungan.

Dan jadilah ma’rimpa salo di gelar sebagai upaya mensyukuri nikmat dari Yang Maha Kuasa sekaligus sebagai khalifah di muka bumi menjaga lingkungan agar aman untuk semua mahluk.

Di sisi ini saja kita sudah bisa memetik pelajaran bahwa keberadaan dan perayaan gelaran manusia harus bersahabat dengan lingkungan. Bahwa tanah, sungai dan binatang adalah simpanan anak cucu yang dititipkan kepada kita untuk di jaga. Bahwa kearifan lokal sebagai nilai budaya mampu berdampingan dengan nilai kemanusiaan.

Tidak harus berbenturan, apalagi sampai meniadakan satu sama lain. Disini adat berdampingan dengan keramahan terhadap lingkungan dan itu adalah pelajaran yang paling mudah difahami bila dibandingkan dengan membaca buku-buku tebal tentang budaya dan sejarah.

Nilai ma’rimpa salo merupakan nilai universal yang menggambarkan gotong royong, kesetiakawanan dan kebersamaan dalam suka pun duka. Nilai itu tergambar jelas melalui upaya bersama menghalau ikan dengan perahu dan suara gendang bertalu-talu dari awal hingga akhir.

Sebelum menghalau ikan, para pemuda dan nelayan dilepas dengan doa oleh pemuka agama. Lalu dengan sorak sorai, para masyarakat yang menyaksikan memberi semangat sekaligus menyiapkan peralatan membakar ikan yang didapat nanti.

[CUT]

Nilai gotong royong tercermin dalam sikap bersatu padu menebar jala serempak dan menariknya bersama. Dengan itu semakin banyak ikan yang ditangkap ketimbang mengerjakannya sendiri. Letak kebersamaan tersirat pada menikmati hasil tangkapan yang dikonsumsi bersama-sama dalam suasana keakraban.

Di tengah hingar bingarnya globalisasi yang menaungi kehidupan hari ini,  nilai-nilai tradisi ma’rimpa salo seperti oase bagi tumbuh kembangnya kearifan lokal. Model budaya yang terselenggara dalam balutan modernisasi seperti ini merupakan lintasan jembatan untuk mengajak kembali masyarakat dan generasi milenial menyerap nilai-nilai adat sebagai acuan menjalani kehidupan sehari-hari.

Perwujudan nilai dalam ma’rimpa salo bisa diteladani sebagai jalan mempersempit ruang individualistis yang makin dominan dalam kehidupan kita. Dengan kebersamaan sosial sebagai falsafah dibalik ma’rimpa salo, maka konflik horizontal yang berpotensi muncul bisa di redam.

Kemunculan ma’rimpa salo yang  mengalami transformasi bentuk, tidak mengubah nilai-nilai yang telah melekat sejak awal. Walaupun kegiatan ini di ikuti dengan berbagai perlombaan lainnya, tetapi secara umum ma’rimpa salo merupakan tudang sipulung dalam skala yang lebih besar. Di sana saling bertemu kerabat, masyarakat, handai taulan, dan pengunjung yang tidak saling mengenal membaur dalam suasana hangat kekeluargaan.

Di sana kelelahan dirasa bersama. Kenyang di nikmati bersama, tertawa bersama lalu perasaan persaudaraan muncul dan kita pun di ikat oleh sebuah tali budaya yang tak lekang di hantam zaman. 
Patutlah apresiasi di hidangkan kepada Pemerintah Kabupaten Sinjai yang tetap berpijak pada adat dan budaya.

Peran dan dukungan pemerintah setempat terhadap kegiatan  budaya kolosal seperti ini adalah bentuk tanggung jawab nyata mendistribusikan nilai-nilai kultural ke seluruh lapisan masyarakat agar tercipta kerukunan.

[CUT]

Bila kegiatan ma’rimpa salo berhasil menarik kehadiran para wisatawan mancanegara maka itu adalah bonus yang patut dibanggakan. Tetapi jauh lebih penting, nilai-nilai dibalik perayaan ma’rimpa salo mampu di hayati dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan itu, budaya kita menjadi budaya yang dinamis, mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman sekaligus menjadi petunjuk arah menuju masyarakat yang beradab dan berperikemanusiaan.

Editor : Ardy
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI