Hari AIDS Sedunia : Merapatkan Shaf Perlawanan

11/30/2019 | 20:47 WIB

Bagikan:
Hari AIDS Sedunia :  Merapatkan Shaf Perlawanan

Peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2019 besok, merupakan agenda rutinitas warga kesehatan dunia dalam memperbaharui spirit melawan penyebarluasan penyakit HIV AIDS yang makin tak terkendali.

Momentum Hari AIDS Sedunia merupakan arisan tahunan global yang melahirkan terobosan terobosan setiap tahunnya dan itu menjadi penanda tren penyakit ini tak pernah turun. Secara definisi HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyebabkan penurunan kekebalan tubuh.

Serangan HIV ke tubuh manusia melumpuhkan sel darah putih yang berfungsi sebagai tentara dalam tubuh melawan infeksi. Ketika sel darah putih lumpuh maka kekebalan tubuh menurun menyebabkan rentan oleh serangan penyakit. Kondisi inilah yang disebut AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh.

Situasi perkembangan HIV AIDS di Indonesia masuk dalam kategori darurat. Seperti dilaporkan Ditjen P2P Kemenkes RI pada tanggal 27 Agustus 2019 menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS mendekati angka setengah juta atau 500.000 yaitu 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS.

Sedangkan estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 640.443, yang berarti baru 60 % terdeteksi. Setiap tahun, sejak tahun 2005 hingga 2019 terjadi kenaikan kasus HIV yang dilaporkan. Ada 5 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua dan Jawa Tengah (Tagar.id).

Tahun 2019 ini, WHO mengusung tema Hari Aids Sedunia “Communities Make the difference” atau “Komunitas membuat Perbedaan”. Tema ini menjadi pilihan karena komunitas merupakan rantai kuat dalam mencegah dan melawan gelombang HIV AIDS.

[CUT]

Dengan komunitas, maka penderita HIV AIDS saling bahu membahu tetap berada dalam kehidupan sosial yang normal. Mereka berinteraksi sekaligus menyebarkan pengaruh untuk waspada dengan faktor penularan HIV AIDS.

Jargon yang paling sering kita dengar bahwa jauhi virusnya bukan penderitanya. Ini kampanye untuk mendudukkan penderita HIV AIDS agar tidak mendapat diskriminasi dalam berbagai lini kehidupan.

Selain itu, menjamurnya komunitas yang fokus pada pendampingan penderita HIV AIDS juga menambah daya gedor terhadap penguatan psikis penderita yang nantinya ikut bergabung dalam barisan membendung HIV AIDS.

Secara kekinian, Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) masih mendapat image negatif dikalangan masyarakat sehingga cenderung dijauhi dan dikucilkan. Bahkan mitos yang muncul seseorang dapat tertular HIV dari nyamuk yang telah menggigit penderita .

Faktanya walaupun serangga seperti nyamuk bisa menularkan beberapa penyakit, tapi HIV bukan salah satunya. Kesadaran seperti ini perlu dikuatkan dan dibangun melalui komunitas komunitas dalam mematahkan beberapa anggapan masyarakat yang tidak benar.

[CUT]

Walaupun telah 37 tahun berlalu sejak penyakit ini pertama kali dideteksi pada manusia, HIV AIDS ternyata baru bisa dikendalikan, bukan disembuhkan. Kondisi Ini ternyata tidak mematahkan semangat para peneliti untuk menemukan obat HIV AIDS yang sesungguhnya.

Penelitian disana sini makin gencar dilakukan disebabkan penyebaran HIV AIDS tertinggi ditemukan pada kelompok umur produktif 20-29 tahun. Tentu saja ini kabar buruk bagi masa depan Indonesia. Maka bila tak ada langkah konstruktif , maka kegelapan akan menyelimuti generasi mendatang.

Secara penularan HIV AIDS, faktor resiko tertinggi melalui hubungan seksual dan penggunaan alat suntik. Biasanya ini ditemukan pada pemakai narkoba yang kerap bergantian dengan temannya sesama pemakai narkoba. Tak heran, bila pemakai narkoba sangat rentan terhadap penularan HIV AIDS.

Hari ini dunia kesehatan menuju ke arah yang lebih baik dalam menemukan obat obatan mutakhir melawan berbagai penyakit. Tetapi kesembuhan penderita HIV AIDS masih menjadi jalan panjang untuk menjangkaunya.  Dengan demikian, peran masyarakat dan seluruh elemen menjadi benteng utama dalam mencegah lahirnya ODHA baru.

Kita tidak boleh pesimis berjuang melawan HIV AIDS. Kita hanya perlu meluangkan waktu untuk peduli dengan penyebaran HIV AIDS disekitar kita.

Penulis adalah drg. Irfan Aryanto
Staf puskesmas Lappae
Pengurus persatuan Dokter Gigi Indonesia Cabang sinjai.
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI