Hantu Bagi Kesehatan Bernama Banjir

1/09/2020 | 22:46 WIB

Bagikan:
Beberapa hari terakhir berbagai daerah Indonesia di hantam banjir yang memporak porandakan seluruh fasilitas pribadi dan publik. Akibat tingginya curah hujan dan rendahnya serapan air, luapan tak terbendung menjadi kado awal tahun 2020.

Oleh: Drg. Irfan Aryanto
Beberapa hari terakhir berbagai daerah Indonesia di hantam banjir yang memporak porandakan seluruh fasilitas pribadi dan publik. Akibat tingginya curah hujan dan rendahnya serapan air, luapan tak terbendung menjadi kado awal tahun 2020. 

Tidak mengejutkan karena setiap tahun banjir seperti tamu yang selalu bertandang. Anehnya walau berjibun solusi yang di canangkan, belum cukup menekan rendahnya volume air yang menari nari bebas menghantam pemukiman dan perkantoran.

Banjir merupakan masalah klasik yang  belum menemui jalan keluar penyelesainnya. Padahal banjir memberikan dampak kerugian material, waktu dan bahkan jiwa. Tidak hanya itu, banjir kerap mengancam kesehatan di tiap kedatangannya karena beresiko melahirkan sejumlah penyakit. 

Dalam situasi seperti ini, faktor kesehatan menjadi hal penting untuk di jaga mengingat dampak banjir yang diakibatkan bisa berakibat fatal.

Menurut lembaga World Health Organization (WHO) bahwa banjir berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit, khususnya yang disebabkan oleh kontaminasi fasilitas air minum dan jelas membawa kotoran binatang  pengerat seperti tikus yang membawa virus leptospirosis jelas menjadi ancaman ( web cnn indonesia).

Selain itu, banjir secara tak langsung meningkatkan penyakit yang disebabkan oleh vektor atau hewan pembawa penyakit seperti nyamuk. Banyaknya genangan air  yang timbul akibat banjir memungkinkan jentik nyamuk berkembang biak yang berpotensi melahirkan penyakit malaria dan demam berdarah.

[CUT]

Olehnya selain mewaspadai kemungkinan datangnya banjir, maka yang tak kalah pentingnya menyadari bahwa dampak banjir dalam hal penyakit juga jauh lebih dahsyat. Dalam laporannya, Dinas Kesehatan (DINKES) Kota Bekasi mencatat sebanyak 5.587 warga kota Bekasi menderita penyakit akibat banjir yang turun sejak awal tahun.

Data di peroleh melalui angka kunjungan warga atau pasien posko kesehatan selama 1 pekan. Faktor kondisi lingkungan yang kotor pasca banjir  dan daya tahan tubuh menurun menjadi penentu tingginya warga yang terkena penyakit pasca banjir.

Salah satu penyakit pasca banjir yang biasa terjadi adalah diare (web dokter sehat). Bila banjir mengenai sebuah area maka dampaknya zona itu akan kotor dan dipenuhi oleh bakteri hingga virus. Peluang terjadinya kontaminasi pada makanan dan minuman yang di konsumsi oleh warga sangat besar.

Maka muncullah gejala diare seperti sakit perut, selalu buang air besar (BAB) dan kadang disertai feses berlendir darah. Meskipun diare adalah penyakit yang di anggap biasa oleh masyarakat kita, tetapi ini tidak boleh disepelekan.

Soalnya WHO mencatat sekitar 2 juta balita di dunia meninggal dunia setiap tahunnya akibat diare. Perihnya, persentase sebesar 8,5 % di alami oleh anak anak yang bermukim di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dengan curah hujan yang tak henti hentinya di Kabupaten Sinjai, maka siaga dan ekstra waspada terhadap kemungkinan kemungkinan terdampak banjir perlu di galakkan sejak dini. Terlebih lagi di bulan Juni 2019 silam, banjir telah melanda kabupaten Sinjai yang mendatangkan kerugian tidak sedikit.

Olehnya kebersihan lingkungan perlu dibenahi sebelum banjir timbul agar tidak menjadi faktor pencetus lahirnya penyakit yang membahayakan. Semoga musim hujan  tahun ini di kabupaten Sinjai tidak menimbulkan banjir yang mematikan. Ini menjadi harapan sekaligus perhatian kita semua


  • Penulis adalah staf puskesmas lappae, Anggota PDGI cabang Sinjai
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI