Cengkraman Pandemik Virus Corona Mengintai Kesehatan Nasional

2/24/2020 | 23:10 WIB

Bagikan:
Cengkraman Pandemik Virus Corona Mengintai Kesehatan Nasional
Foto penulis Drg.Irfan Aryanto

INSTINGJURNALIS.com - Beberapa hari lalu sewaktu mengikuti seminar Kesehatan Gigi dan Mulut di Makassar, seorang sahabat saya bertanya : “fan, tidak menulis tentang virus corona?”. Saya menatapnya sejenak sambil menjawab “apa urgensinya virus corona hari ini terhadap Indonesia?”.

Sedikit menyeruput kopi ia membalas: “virus corona hari ini adalah kiamat buat kesehatan dunia. Terlalu kecil bila bicara skala Indonesia”. Saya terdiam. Saya mencoba mencerna jawabannya. Dalam hati kecil saya berkata: “mengapa ia khawatir terhadap virus corona padahal kasus stunting di Indonesia belum tuntas nol persen”.

Seperti di ketahui Virus Corona Wuhan pertama kali diidentifikasi di China pada Desember 2019, menewaskan hampir 200 orang dan menginfeksi hampir 10.000 di seluruh negara di dunia.

Walaupun begitu, pertanyaan sahabat saya itu masih terngiang hingga kemudian saya membaca laporan Rehia Sebayang dari CNBC Indonesia yang mengungkap virus Corona (COVID-19) telah menjelma menjadi Armageddon yang menimbulkan ketakutan global. Pernyataan ini didasari atas makin banyaknya korban jiwa dan menjangkiti banyak orang bagai air bah yang tak terbendung. 

Bahkan Negara Korea Selatan dan Italia telah  mendapat getah virus Corona dengan rincian warga Korea Selatan yang terinfeksi melampaui 600 orang dan 6 diantaranya meninggal sedangkan Italia memiliki 150 korban terinfeksi dan 3 di antaranya meninggal dunia.

Seketika saya teringat dengan tulisan saya yang di muat di situs suarajelata.com pada tanggal 4 April 2019 silam yang berjudul: “Ancaman Penyakit global terhadap penyakit nasional”. Tulisan yang di muat sebagai kolom opini itu membahas tentang kemungkinan penyakit dari luar masuk ke Indonesia dan merusak tatanan kesehatan nasional.

[CUT]

Saya berfikir ini ada kaitannya dengan kekhwatiran sahabat saya di atas bahwa Indonesia sedang berada dalam lingkaran ancaman yang rentan. Pasalnya Indonesia menjadi salah satu negara sasaran tenaga kerja asing dan aseng yang hilir mudik melalui udara dan laut.

Banyak proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia yang dikerjakan oleh tenaga kerja asing, di tambah lagi dengan tiadanya pemeriksaan kesehatan secara berkala kepada tenaga kerja ini menjadi momok yang mencemaskan bagi banyak pihak.

Dalam tulisan opini saya yang lampau, pergerakan penduduk dari satu negara ke negara yang lain dalam era globalisasi  menambah daya dorong perpindahan penyakit . Tetapi sirkulasi penduduk antar negara tak mungkin dihentikan karena telah menjadi kebutuhan yang saling menguntungkan.

Di sana ada unsur pariwisata, ada unsur travel, ada devisa, ada faktor ekonomi dan banyak hal lainnya. Bahkan pelarangan masuk ke negara China diyakini hanya sementara sampai corona virus dapat terobati dengan baik. Sangat mustahil membatasi pergerakan masyarakat dunia sebagai solusi jangka panjang mempersempit perluasan corona virus.

Itulah sebabnya kesehatan global hari ini sementara berpacu dengan waktu untuk menemukan vaksin bagi coronavirus. Penyebarannya yang cepat seperti sniper yang tak terlihat tapi mematikan. Beberapa peneliti melaporkan bahwa virus corona dapat tersebar dari orang yang tidak memiliki gejala sama sekali sehingga sulit melakukan identifikasi terhadap mereka yang menjadi sumber penyebaran virus corona. 

Novel Coronavirus menargetkan sistem pernapasan sebagai tujuan. Beberapa kasus menunjukkan virus corona menyebakan infeksi pernapasan ringan layaknya flu, namun bisa juga menyebabkan infeksi pernapasan berat seperti pneumonia. Karena sistem pernapasan yang terkena, maka gejala virus corona menyerupai gejala penyakit flu seperti hidung berair, demam, sesak napas,  nyeri tenggorokan, sakit kepala, nyeri pada dada hingga batuk berdahak.

[CUT]

Maka ada baiknya mengenal gejala gejala pada virus corona untuk menguatkan kewaspadaan kita terhadap penyebaran penyakit ini. Ada hal menarik dalam simposium FKUI pada kamis, 30 Januari 2020 dokter Spesialis Paru Erlina Burhan berpendapat salah satu faktor masyarakat Indonesia tidak beresiko terhadap coronavirus adalah iklim tropis dengan sinar matahari sangat menyengat.

Faktor iklim ini membuat virus akan mudah mati dalam keadaan panas bila berada di udara. Apapun itu, maka idealnya kita kembali kepada nilai nilai dasar menjaga kesehatan seperti mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, menggunakan teknik yang tepat saat batuk atau bersin dan saling menasehati kepada sesama untuk memeriksakan diri kepada fasilitas kesehatan terdekat bila ada yang sakit. Setinggi apapun teknologi kesehatan hari ini tak mampu menandingi kampanye kesehatan nasional : mencegah lebih baik dari mengobati.     

Dokter gigi pkm lappae
Pengurus PDGI cabang sinjai
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI