Pembangunan Ruas Jalan di Sinjai Diduga Bermasalah, Ketebalan Aspal Tidak Sesuai Kontrak

5/02/2020 | 23:40 WIB

Bagikan:

INSTINGJURNALIS.Com--Proyek peningkatan jalan di sejumlah ruas di kota Kabupaten Sinjai dinilai tidak bermutu bahkan dinilai dikerja asal-asalan.

Pasalnya, pembangunan tersebut diduga tidak sesuai dengan petunjuk kontrak kerja yang disepakati sebelumnya oleh pihak penyelenggara (Pemerintah Kabupaten Sinjai melalui dinas PUPR) dan pihak pelaksana atau pemenang tender yakni PT.Iham Jaya Construction.

Sementara dari sejumlah hasil pekerjaan yang sudah dilakukan pelaksana lapangan di beberapa ruas jalan, mendapatkan kritikan dari beberapa kalangan masyarakat Sinjai.

Sesuai dengan pantauan INSTINGJURNALIS, diduga hasil dari pekerjaan peningkatan jalan yakni pengaspalan di beberapa ruas jalan terlihat hasil pekerjaan hotmix terdapat ketebalan yang bervariasi yakni ada ketebalan 2 cm, 3 cm dan 4 cm, padahal diketahui dalam kontrak seharusnya pelaksana pekerjaan melakukan  pengaspalan dengan tebal 5 cm.

Selain itu, juga terdapat hasil pekerjaan di bebeberapa ruas jalan, pengaspalannya  berpori-pori yang berpotensi diresapi air sehingga menyebabkan kerusakan jalan yang sedini mungkin.

Terpisah, salah satu pengawas lapangan yang mengaku dirinya dari pihak PUPR yang enggan sebutkan namanya, membenarkan bahwa perjanjian kontrak peningkatan ruas jalan tersebut harus berukuran 4 meter sedangkan ketebalan 5 cm jelasnya.

"Pekerjaan yang ada di Dinas PUPR Kabupaten Sinjai ini dibiayai oleh sumber anggaran hutang oleh Pemerintah Sinjai guna untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, sedangkan untuk pembangunan ruas jalan pusaran kota Sinjai pemerintah menganggarkan sebanyak Rp.13.838.153.000.yang bersumber APBD tahun anggaran 2020.

Terpisah menurut pengamat pengaspalan, Abdillah menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kualitas aspal jalan yang baik harus mengikuti spesifikasi yang ditentukan baik dalam perencanaan maupun pelaksanaannya.

"Dari segi perencanaannya tentu harus mengikuti Jobmix Design yang disepakati antara kontraktor, konsultan dan Pemberi tugas. Sedangkan segi pelaksanaan harus mengikuti prosedur seperti trial pemadatan yang sudah disepakati," ungkap Abdillah.

Kemudian dijelaskan bahwa, Aspal jalan yang sering cepat rusak bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti, kadar aspal tidak sesuai Job Mix Formula, yaitu komposisi material penyusun agregat aspal yang dibuat di laboratorium sebelum pelaksanaan di lapangan mulai.

”Misalnya jika dalam JMF menyebutkan kadar aspal yang harus dipakai min 6,2% maka kadar aspal yang digunakan di lapangan harus 6,2% juga, kemudian suhu penghamparan aspal di lapangan tidak sesuai spesifikasi, biasanya terjadi karena jarak AMP (Asphalt mixing plant) dengan lokasi pengaspalan terlalu jauh," lanjut Abdillah.

Lebih lanjut, Abdillah menjelaskan, suhu aspal yang normal pada saat dituangkan di asphalt finisher adalah 135-150 derajat celcius. Selanjutnya, LPA dan LPB belum keras tetap dipaksakan dilakukan pengaspalan. LPA adalah lapis pondasi atas yang terletak tepat di bawah agregat aspal sedangkan LPB adalah lapis pondasi bawah yang terletak di bawah LPA dan diatas tanah dasar.

"Seringkali dalam pelaksanaan di lapangan lebih mengutamakan percepatan tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan, kemudian agregat aspal di atas tanah timbunan yang belum padat, jumlah passing pemadatan kurang, dan komposisi abu batu yang berpengaruh pada kualitas kerekatan, serta kurangnya pemadatan menggunakan alat berat, karena pemadatan aspal biasa menggunakan 2 alat yaitu tandem roller dan PTR (pneumatic tire roller)," jelasnya.

Adapun jenis-jenis retakan di aspal jalan yang sering terjadi, adalah retak kulit buaya (alligator cracks), yaitu kerusakan jalan berupa retak yang memiliki celah cukup lebar. Atau berpori-pori yang bisa diresapi air.

(Ardy)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI