Cerita Petani di Kabupaten Bone, Gagal Panen Akibat Kemarau Panjang

2/08/2021 | 19:42 WIB

Bagikan:

Penulis: Musriandi

Editor  : Muhammad Irham


INSTINGJURNALIS.Com--Ibarat pepatah, bagai makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Begitulah keadaan yang menggambarkan kondisi petani di Kabupaten Bone khususnya di Kecamatan Cenrana. Akibat kemarau mereka dipastikan gagal panen. 


Sawah yang tengah ditumbuhi padi berusia dua bulan lebih itu tampak memilukan. Batang padi yang kurus dan mengecil, pertanda bahwa panen kali ini akan berakhir kurang memuaskan. Petani hanya bisa pasrah dengan kondisi. 


Petani di Desa Cakkeware Kecamatan Cenrana misalnya. Hingga kini, sawah mereka mengering dan tak kunjung mendapatkan air. Petani hanya bisa pasrah dengan keadaan sambil menunggu musim kemarau berakhir.


Petani yang sebelumnya memanfaatkan sumur bor untuk mengairi sawahnya terpaksa harus berhenti, mengingat biaya yang dikeluarkan cukup mahal. 


Kesal dengan keadaan itu, sejumlah petani terpaksa membiarkan padinya kering dan mati, meskipun telah menelan ongkos yang tidak sedikit. 


Irfan, seorang petani kepada Instingjurnalis.com, Senin (08/02/2021) mengaku, sawah yang digarapnya dipastikan gagal panen akibat tidak mendapatkan suplai air.


"Karena tidak ada gunanya lagi, Karena sudah tidak mendapatkan air akhirnya mengering dan tidak bisa diharapkan lagi," ungkap Irfan.


Irfan mengatakan, petani telah merugi jutaaan, mengingat biaya operasional mulai dari tahap pengolahan bibit, biaya penggarapan sawah, hingga biaya pupuk dan sarana produksi lainnya dirogoh dari kocek sendiri. Namun sayang, hasilnya tidak sesuai harapan.


"Kami sungat rugi, yang kami harapkan saat ini hanya satu, kapan turun hujan. Sehingga kekeringan ini tidak berkepanjangan," tuturnya.


Petani lainnya, Umar (29) merugi setelah biaya yang dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil panen. Bayangkan, kata dia, telah menjual ternaknya untuk biaya produksi padi. Namun hasilnya nihil. "Biaya ongkosnya mencapai jutaan, sementara hasilnya rugi," ungkapnya.


Sawah saat ini butuh air, tapi apa boleh buat jika sumber air tengah kering. Jika dipaksakan untuk memompa air dengan mesin, biayanya tidak sedikit.


"Sekali pompa butuh beberapa liter bensin atau solar, harga solar sekarang berapa? Hitung meki sendiri berapa banyak itu biaya. Sedangkan padi yang mau dipanen kondisinya tidak bagus. Tapi panen tidak panen tetap saja rugi," keluhnya petani yang berada di Bone Utara itu.



Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI