Invisible Hand TGB di Munas dan Kombes NU Lombok

07 April 2018 | 16:55 WIB

Bagikan:
Invisible Hand TGB di Munas dan Kombes NU Lombok
INSTINGJURNALIS.com, LOMBOK - Membaca berita sebuah media terkait TGB HM Zainul Majdi yang disebut membunuh kebijakan Nahdlatul Ulama (NU) di Lombok, membuat dahi ini mengernyit. Berita dengan sumber anonim tanpa tabayyun ini seolah-olah ingin mengadu Nahdlatul Wathan (NW) dengan NU. Penuh fitnah.

Sebagai santri dari Jombang, Jawa Timur, didikan Ponpes Mambaul Maarif, Denanyar dan Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras rasanya perlu menuliskan beberapa cerita. Supaya bisa melengkapi wawasan sebagai santri dan tak gampang terprovokasi.

Di Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konfrensi Besar NU, November 2017. Secara kebijakan acara yang digelar di Lombok ini disokong oleh Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi. Dari cerita dukungan materi cukup besar.

Bahkan, kabarnya jelang penutupan masih ada panitia yang minta tambahan ratusan juta, alasannya untuk bisyarah (uang saku) para alim ulama. Namun, saya tak ingin membahas soal hal yang terlihat di mata publik.

Cerita ini justru membuka yang tak banyak pihak tahu. Cara TGB memberi dukungan, tentu tak hanya yang sepengetahuan saya. Diluar yang diamanahkan ke saya, bisa jadi lebih banyak lagi.

Rabu, 22 November petang panggilan WhatsApp (WA) berdering. Panggilan datang dari Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi. Gubernur yang akrab disapa TGB, kepada saya sangat jarang melakukan panggilan suara. Komunikasi lebih sering melalui pesan WA.

"Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) sudah datang," tanya TGB.

"Belum tuan guru, sebentar lagi" jawab saya yang sedang di Bandara Internasional Lombok.

"Kabarkan kalau Mbah Moen sudah datang. Dampingi dan berikan yang terbaik buat beliau," lanjut TGB.

"Nggih tuan guru. Baik, Insya Alloh tiang laksanakan," jawab saya.

Jauh sebelum acara memang, TGB cukup rajin mengupdate informasi Munas dan Konbes. Sebelum Mbah Moen ada ulama NU yang datang, sudah lebih dahulu diperhatikan. Dan tentu difasilitasi dengan baik. Barangkali sampai sekarang panitia sendiri tak tahu apa yang dilakukan oleh TGB. Secara khusus untuk membantu saya di lapangan, ada pengurus NW yang terlibat, ada Pak Irfan  dan Pak Haji Irzani.

Tak hanya lewat ponsel saja, secara khusus Kamis malam, 23 November gubernur NTB datang tanpa pengawalan ke hotel Mbah Moen. Pertemuan ini bahkan tak diganggu oleh putri Mbah Moen Nyai H Shobihah Maimoen dan suaminya KH Moestofa Aqil Siraj. Lebih satu jam TGB sowan kepada pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang. Lagi-lagi ada kader muda NW Ikhsanul Wathoni yang ikut mendampingi sekaligus mendokumentasikan.

Dalam pembicaraan tersebut Mbah Moen menyampaikan, bila hubungan antara NW dan NU itu begitu dekat. Bila di barat ada nama Syekh Yasin Al Faddani, maka dari barat ada Maulanasyeikh TGH Zainuddin Abdul Madjid sebagai ulama terkemuka. Hingga Mbah Moen kembali ke Jawa, perwakilan dari NW tetap mendampingi. Pak Irfan dan Pak Haji Irzani sampai mengantar Mbah Moen ke bandara untuk kembali ke Jawa.

Dan Rabu 22 malam, Pak Irfan dan Pak Haji Irzani pun secara khusus datang ke Hotel Golden Tulip, silaturahmi dengan pengurus PBNU. Ada KH Hasib Wahab Chasbullah (Ketua PBNU), KH Cholil Yahya Staquf (Katib PBNU), H Bina Suhendra (Bendahara PBNU), dan pengurus lainnya. Bincang dan obrolan berlangsung hingga larut

Bukan itu saja, secara khusus TGB pun menanyakan soal KH Hasib Wahab Chasbullah dan Nyai Hj Machfudhoh Wahab Chasbullah, keduanya dzurriyah Almaghfurlahu KH Wahab Chasbullah, muassis NU. Sama seperti kepada Mbah Moen, TGB meminta, supaya para ulama ini dilayani sebaik mungkin.

Ini hanya secuil dari perhatian TGB pada acara NU yang bisa saya tulis. Karena terlalu panjang bila satu-persatu kiai yang mendapat perhatian. Diluar dukungan yang tampak, sesungguhnya ada invisible hand (tangan tak terlihat) dari TGB yang membantu.

Jelas buat saya tak mungkin bisa memfasilitasi berbagai hal jika tanpa dukungan TGB beserta jajaran NW nya. Ini hanya sekelumit, kalau hal lain barangkali nanti akan banyak yang menambahkan seperti apa dukungan TGB pada NU NTB.

Silahkan bila banyak santri merasa paling nahdiyyin. Apa yang saya sampaikan ini karena saya juga santri NU dan banyak rekan saya sesama santri NU pun ikut dibantu dalam acara di Lombok. Kalau sekarang yang merasa paling NU, mencoba mengadu antara NU dan NW, saya mengundang datang ke Jombang. Mari napak tilas. Jangan karena urusan politik, kita sebagai santri mengaduk-ngaduk hubungan para muassis dan keturunannya. Para kiai kita mengajarkan kesantunan.

Febrian Putra-Santri Jombang
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI