Prihatin, Begini Tips JPN Jaga Anak dari Pelecehan Seksual dan kekerasan

04 August 2019 | 15:05 WIB

Bagikan:
Prihatin, Begini Tips JPN Jaga Anak dari Pelecehan Seksual dan kekerasan
Julianti Noor

INSTINGJURNALIS.com - Ketua UmumJendela Pendidikan Nusantara (JPN), Julianti Noor menyatakan prihatin atas kejahatan seksual atau pelecehan seksual serta kekerasan terhadap anak yang marak terjadi.

Teranyar, fenomena itu bahkan membuat para orang tua khawatir dan takut akan hal itu. Apalagi, Markas Besar Polri mencatat ada 236 kasus pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi pada Januari hingga Mei 2019.

"Sebenarnya masalah ini bukan masalah baru, ini sudah ada sejak lama, hanya saja sosial media semakin mampu menemukan kejadian-kejadian dan mencuatkan kepermukaan sehingga banyak
Kejadian menjadi nampak dan makin menjadi momok ketakutan yang nyata bagi anak dan orang tua," katanya saat dimintai tanggapan soal fenomena itu, Minggu (4/8/2019).

Sebagai lembaga yang aktif dalam pendampingan dalam gerakan Cegah, Didik dan Dampingi, lanjut Julia pihaknya intens melakukan sosialisasi kepada sekolah untuk mengenali modus yang menjurus kepada kekerasan dan pelecehan di sekolah maupun luar sekolah.

"Sosialisasi aktif JPN mengajak masyarakat dan para pelaku dunia pendidikan dan juga para pemerhati agar makin giat memberikan pemahaman kepada anak dan orang tua seperti apa yang dimaksud indikasi kekerasan maupun pelecehan yang mungkin awalnya terlihat biasa namun selanjutnya dari pelecehan kecil yang biasa menjadi pemerkosaan maupun bahaya besar lainnya sampai kekerasaan disaat anak (korban) menolak untuk dilakukan pelecehan," ujannya.

Lebih lanjut wanita kelahiran Makassar ini mengatakan, indikasi itu harus dijadikan pembelajaran tambahan pada anak agar saat modus atau adanya keadaan yang tergolong pelecehan seks anak dan remaja sudah harus memproteksi dini dirinya.

Juga agar tidak mudah hanyut dan tidak mudah tergoda oleh oknum siapapun, meski itu adalah orang yang sangat dikenal sekalipun sepanjang dia lawan jenis maupun mempunyai karakter yang menyimpang meski bukan lawan jenis.

"Awamnya anak dan remaja mengenali pelaku sejak dini dalam menjalankan modusnya sehingga terkadang kejahatan terjadi berawal dari lengahnya korban dan mengganggap hal biasa karena mengenali pelaku lalu tanpa sadar membuka pintu untuk diperlakukan lebih dari seblumnya," lanjutnya.

Proteksi dini ungkap Julia, harus menjadi pengetahuan yang wajib di ketahui oleh anak didik di sekolah maupun para orang tua agar mampu sama-sama menjaga diiri maupu anak dan keluarga terhindar dari pelecehan maupun kekerasan lainnya.

"Yang paling penting selain pengetahuan tentang modus modus awal pelaku , pendidikan Moral maupun Agama dan Budaya harus makin kuat ditanamkan agar anak bisa mengingat rambu-rambu yang membuat mereka tidak akan melakukan kedekatan fisik dan sikap daam hal apapun kepada lawan jenis maupun penyimpangan ke pribadian yang kerap bisa berakibat pergaulan yang menyimpang pula," kata Julia.

Juga kata Julia, Pendidikan Agama, Moral dan Budaya di tingkatkan karena penting menjadi koridor pertama proteksi diri terhadap pelecehan seksual dan kekerasan yang berawal dari kedekatan fisik dari orang orang yang dikenal secara wajah tapi tidak secara perilaku dan karakter. (Ardy)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI