OPINI : Edukasi dan Etika Perlawanan

10/10/2019 | 12:19 WIB

Bagikan:
OPINI : Edukasi dan Etika Perlawanan

Oleh: Arsyad
(Pendidikan Alternatif & Kreasi Anak Rakyat)
Pasca perang dingin, banyak bermunculan identitas-identitas kebudayaan yang kemudian berkembang menjadi konflik antar-peradaban. Sekat lintas blok yang pernah mewarnai perang dunia I, perang dunia II, dan perang dingin, sepertinya mewariskan peserta kontestan konflik baru di akhir abad XX dan awal abad XXI.

Sekat lintas ideologi, organisasi, agama, dan sejenisnya seakan melupakan urgensi persaudaraan.
Selain itu, rakyat indonesia yang banyak terinspirasi dari perjuangan kaum marjinal dalam peristiwa revolusi Francis, revolusi amerika, revolusi cina, revilusi bolshevik, bahkan perang saudara di amerika dan sejenisnya.

Bahkan, semangat pejuang reformasi tahun 1998 diwarisi oleh munculnya gerakan terpelajar yang waktu itu belajar ke eropa dan mampu menyerap ide-ide nasionalisme di eropa dan diaplikasikan di indonesia sehingga mampu menghasilkan gerakan nasional.

Ketika lonceng reformasi dibunyikan, maka semangat kaum reformis mengambil langkah unjuk rasa menuntut presiden mundur dari jabatannya dan itu berhasil dilakukan.

Gerakan revolusi di luar negeri, gerakan perlawanan melawan penjajah untuk keluar dari ketertindasan, gerakan reformasi penumbangan orde baru 1998, banyak diinspirasi oleh kalangan pelajar, pemuda, mahasiswa, dan lainnya.

[CUT]

Bahkan Tak sedikit kaum demostran yang masih mengobarkan suara-suara perlawanan anti tirani. Terdapat di antaranya adalah kaum pelajar dan mahasiswa bahkan kaum organisatoris serta masyarakat umum.

Tapi tidak boleh diklaim apakah semangat reformis dan aksi tersebut diajarkan oleh lembaga pendidikan, organisasi, ataukan golongan rahasia.

Sering kali wajah demonstran ketika melakukan aksi, seakan menganggap bulat-bulat bahwa apa yang mereka tuntut adalah kebenaran mutlak yang harus diterima dan tidak butuh akulturasi pemikiran dari pihak pemerintah atau orang yang mereka demo.

Bukan tak sepakat, tapi dikhawatirkan kegiatan semacam itu akan merenggangkan hubungan sesama manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dan emosional perlahan luntur dikarenakan kobaran semangat, berteriak-teriak, mengata-ngatai pemerintah dengan kata yang tak pantas. Hal ini serupa dengan gerakan pejuang namun berwajah premanis.

Mempelajari cara isap rokok Che Guavara dan Fedel Castro memelihara brewok lalu menyombongkan diri dan berlagak revolusioner. Meniru perilaku frontal dan kenekatannya dalam melakukan perlawanan secara nekat dan anarkis.

Pelajarilah juga rasa kepeduliannya terhadap kehidupan social yang menyembunyikan penyakit asmanya demi memperjuangkan hak kaum proletariat. Jika melarutkan diri dalam prinsip hidup demikian, maka yang nampak hanyalah kesombongan. Sementara kesombongan hanya akan melahirkan keangkuhan yang jauh dari sikap hormat terhadap sesama manusia.

[CUT]

Untuk mencegah gerakan-gerakan yang membahayakan tersebut, maka hal yang bisa dijadikan sebagai penopang dekadensi moral generasi adalah lembaga dan sistem pendidikan. Urgen kiranya agar diadakan usaha pendidikan kesadaran untuk peserta didik sebelum kelak tertular oleh semangat nasionalisme yang tak berlandaskan etika.

Pendidikan tradisional masyarakat bugis mengajarkan Budaya Sipakatau untuk hadir sebagai solusi ketegangan dalam merespon arus inhumanis tersebut.  Sementara yang dinginkan dalam sebuah gerakan adalah memberikan corak edukasi dan kesejukan perikemanusiaan.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Seperti Mahatman Gandhi yang tetap bersikap damai dan memaafkan orang yang telah menganiayanya. Pendidikan memanusiakan manusia atau konsep pendidikan humanisme, merupakan tawaran cerdas dalam mengembalikan esensi nilai edukasi bagi sosial hidup masyarakat yang damai dan saling menghargai.

Teori ini desepakati oleh tokoh pendidikan seperti Paulo Friere menganggap bahwa “pendiidkan sebagai proses memanusiakan manusia”.

Dalam budaya bugis juga telah diajarkan tentang urgensi menghargai manusia (Sipakatau). Sipakatau artinya menghargai sesama manusia dengan sadar bahwa manusia satu dengan manusia lainnya memiliki derajat yang sama di mata Pencipta.

[CUT]

Manusia diciptakan untuk bermanfaat, bukan saling mengganggu. Nilai-nilai kemanusiaan diajarkan dalam pendidikan tradisional dengan meneguhkan prinsip “mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge’”.

Maksudnya adalah sesame manusia, kita dianjurkan untuk saling menguatkan, saling membantu satu sama lain dengan mengedepankan kepedulian terhadap sesama, dan juga saling mengingatkan.

Produk pendidikan masyarakat bugis tersebut dikemas dalam seperangkat tradisi yang beradab dan beretika.

Wajah lain dari hal terebut yakni, tak sedikit generasi ideologis Gus Dur memperkenalkan poin kedua (kemanusiaan) dari 9 nilai utama yakni mengatakan bahwa menghargai manusia, berarti menghargai Penciptanya.

Pun jika merendahkan manusia, dianggap dengan merendahkan Penciptanya. Selain itu, tak sedikit agamawan mengatakan bahwa, menghadapi manusia itu jangan dilihat dari tubuh/fisiknya, tapi hayatilah siapa Penggerak di balik fisik manusia yang anda hadapi itu.

Jikapun ini adalah dampak dari perseteruan elit politik, maka tidak sewajarnya dibiarkan jika berujung pada kefanatikan Jemaah pendukungnya. Sebagaimana yang disampaikan Gus Dur bahwa “yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan”.
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI