Bias Gender Masih Tumbuh dan Berkembang di Tengah Pemikiran Kaum Milenial

6/23/2020 | 13:45 WIB

Bagikan:
Musrini Muis, S.Sy.ME
Dosen IAIN Bone
Ketua Kopri PMII Cabang Bone 2016/2017

OPINI, Tak di sangka di tengah derasnya arus globalisasi yang ditandai perkembangan pesat teknologi, menstimulasi generasi millenial untuk berlomba-lomba menuangkan ide dan gagasan cemerlangnya dalam bentuk kegiatan positif dan produktif, ternyata masih terselip bias gender.

Yaahh, saya kira sekarang ini tidak ada lagi Diskriminasi, subordinasi, Victim Blaming, stereotip, seksisme, dll. Ternyata hal itu masih ada tumbuh dan berkembang di otak kaum milenial, pemikiran dan tindakan positif yang seharusnya mampu untuk ditumbuh kembangkan oleh kaum milenial ternyata tidak mampu searah dan sejalan  dengan CAP Otak milenial.

Bias gender memberikan dampak yang memihak ataupun merugikan. Dengan iklim patriarki di Indonesia sudah sangat jelas bahwa pihak yang dirugikan dari bias gender adalah perempuan.

Meski edukasi tentang kesetaraan gender telah diperkenalkan dari dulu, bahkan saat ini dengan mudahnya kita bisa mendapatkan edukasi dari berbagai media seiring dengan perkembangan teknologi, ternyata bias gender masih saja lestari secara laten.

Masih banyak pemikiran dan tindakan yang dilemparkan kepada kaum perempuan menimbulkan stigma negatif terhadap perempuan yang berujung pada tindakan stereotip.

Pendapat Perempuan yang masih banyak terabaikan sehingga memunculkan diskriminasi. Perempuan masih diragukan untuk menduduki jabatan dalam suatu pekerjaan sehingga memunculkan subordinasi. Posisi perempuan yang hanya dianggap sebagai pelengkap.

Anggapan bahwa perempuan masih menjadi penghalang kebebasan laki-laki, posisi perempuan sebagai seorang istri yang terkadang pula menimbulkan pemikiran negatif pada otak dangkal si kaum milenial.

"Kenapa kamu jarang nongkrong di luar rumah? di larang sama istri yah?"
"Kenapa kamu berhenti merokok? di suruh sama istri yah?
"Kenapa pakaian kamu yang itu-itu saja?semua gaji kamu istri yang pegang yah?.

Waahhh terlalu banyak pengamat di luar sana, dan masih banyak lagi guyonan seksis yang merugikan perempuan.
hy guysss, coba kamu berpikir positif!

Bisa jadi seorang laki-laki/suami yang jarang nongkrong d luar rumah karena merasa nyaman dan tentram tinggal di dalam rumahnya karena ada seorang istri yang bisa diajak berdiskusi, mungkin juga buatan kopi seorang istri tidak terkalahkan oleh racikan kopi seorang barista di cafe mewah.

Bisa jadi seorang laki-laki/suami yang berhenti merokok baru tersadar bahwa kesehatan lebih penting dari apapun, bisa jadi seorang laki-laki/suami yang pakaiannya itu-itu saja karena sedang menabung untuk mempersiapkan rumah tangga impiannya.

Dan akhir-akhir ini juga banyak terjadi victim blaming, masih banyak masyarakat yang sering menyalahkan terhadap kesalahan atau bencana yang menimpa korban.

Misalnya dalam kasus pemerkosaan, masih banyak pihak yang seakan-akan membenarkan tindakan pelaku dengan melontarkan pernyataan-pernyataan yang menyalahkan korban. "Mencari-cari perhatian", mungkin memang korban yang meminta karna memakai pakaian terbuka"
"terlalu melebih-lebihkan masalah". Dan masih banyak pernyataan-pernyataan lainnya yang memicu terjadinya victim blaming.

STOP menJudge perempuan sebagai biang masalah dalam kehidupan laki-laki.
STOP menyirami otakmu dengan pemikiran negatif terhadap perempuan.
Korban (perempuan) terkadang merasa malas  atau bahkan takut untuk menanggapinya. Yahh, memang sedikit menguras energi jika harus berdebat atau menanggapi guyonan seksis yang bias gender.

Bukankah di era sekarang ini sudah tdk tepat lagi jika kita masih memperdebatkan masalah ketidakadilan gender?
Bukankah di era sekarang ini saatnya kita melangkah bersama?. Laki-laki dan perempuan adalah mitra yang mampu untuk dilangkahkan bersama, bukan salah satunya berada di depan atau berada di belakang, bukan salah satunya yang menjadi prioritas dan menjadi yang ke dua. Tapi semua bisa berdampingan.
Tidak ada kata iri jika salah satunya Sukses karena IRI hanya untuk orang yang tidak percaya diri.

Tidak ada kata kalah, jika salah satunya menang, karena kalah hanya untuk orang yang putus asa.


Musrini Muis
18 Juni 2020

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI