Dinkes Temukan Tiga Balita Stunting di Bone, Ini Penyebabnya

6/18/2020 | 15:13 WIB

Bagikan:

INSTINGJURNALIS.Com--Angka stunting atau gagal tumbuh pada anak balita di Kabupaten Bone dalam lima bulan terakhir mencapai 3 kasus.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang  Kesehatan Dinkes Bone, Eko Nugroho saat ditemui di ruangannya, Rabu (17/6/2020). "Selama Januari hingga Mei 2020, sudah ditemukan 3 kasus gizi buruk di Bone," katanya. 

Sementara pada tahun 2019, ditemukan 9 kasus gizi buruk. Menurut Eko, penyebab gizi buruk di Bone, karena asupan gizi yang kurang. Hal ini dikarenakan angka kemisikinan di Bone sekira 8 persen. 

"Dari 800 ribu penduduk Bone, jumlah penduduk miskin mencapai 70 hingga 80 ribu penduduk," ujar Eko.  

Oleh karena itu, kesejahteraan masyarakat perlu ditingkatkan. Caranya, dengan membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Kemudian perlu sinergitas antar dinas untuk mengurangi angka kemiskinan. 

"Rata rata yang kami investigasi itu yang menderita gizi buruk dalam kondisi ekonomi yang rendah," tuturnya. 

Selain faktor ekonomi, kurangnya asupan gizi juga dipengaruhi oleh pola perilaku, budaya dan aspek sosial. Eko menjelaskan, pihaknya baru-baru ini melakukan monitoring evaluasi stunting di 40 desa locus, dan ditemukan pemberian air susu ibu (ASI) kepada anak masih kurang. 

Masyarakat, kata Eko, perlu diberikan sosialisasi pentingnya asupan ASI untuk tumbuh kembang anak. 

"Masih banyak masyarakat yang harus didorong dan diberikan pemahaman pentingnya pemberian ASI kepada anak," jelasnya. 

Penyebab lain masih ditemukan gizi buruk di Bone adalah karena penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Diare menjadi penyebab, karena di Bone masih banyak masyarakat buang air besar sembarangan. 

Dalam rembuk stunting tingkat kabupaten disebutkan dari 27 kecamatan di Bone, baru 15 Kecamatan yang sudah dinyatakan Open Defecation Free (buang air sembarang).  Sementara 12 kecamatan belum dinyatakan ODF. 

Untuk di tingkat desa/kelurahan, baru 79 desa/kelurahan dinyatakan ODF dari  372 desa/kelurahan.  

Sedangkan pengaruh penyakit ISPA terhadap gizi buruk, menurut Eko karena balita berdampingan dengan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah. 

"Berdasarkan data, 66 persen balita tinggal dengan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah. Sehingga rentan terserang ISPA,"  paparnya. 

Selain itu, gizi buruk juga terjadi karena penyakit penyerta kelainan bawaan, seperti saraf dan hernia. 

Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai upaya untuk mengurangi gizi buruk di Kabupaten Bone. Mulai dari meningkatkan pengetahuan masyarakat agar berperilaku sehat. 

Kemudian,  memberikan makanan tambahan kepada ibu hamil dan balita yang kekurangan gizi. 

Eko menambahkan, pihaknya juga melakukan pembinaan di Posyandu dengan memberikan pendidikan asupan gizi kepada ibu hamil dan melakukan imunisasi kepada balita. 

Dan langkah terakhir, jika ditemukan penderita gizi buruk, pihaknya langsung melakukan penanganan. "Kita akan tangani dan berikan perawatan, baik di Puskesmas atau di rumah sakit," pungkas Eko.

(Muhammad Irham)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI