OPINI: Gaya-gaya Revolusi

9/30/2019 | 22:02 WIB

Bagikan:
OPINI: Gaya-gaya Revolusi

Oleh: Arsyad
(Pemuda Desa Balieng)

Unjuk rasa di sejumlah daerah di Indonesia terus digalakkan. Lonceng-lonceng jeritan (demokrasi dikorupsi) menggalang simpati rakyat dan jalanan kini menjadi sentral perhatian publik.

Semangat pemuda dan mahasiswa semakin tak terbendung dalam menggalang agenda-agenda tuntutan aksi. Meski isu dan tuntutan telah ditunda penetapannya.

Demonstrasi memang menjadi habitat gerakan mahasiswa saat aspirasi di meja diplomasi telah dibatasi. Tak sedikit kasus yang telah dituntaskan oleh mahasiswa dalam mengembangkan amanah sebagai generasi pembawa perubahan (agent of change) dan agen kontrol sosial kemasyarakatan (agent of social control).

Semangat mahasiswa biasanya bertahan dan didukung oleh keyakinan pantang menyerah dalam membela yang benar. Sebagaimana teks dalam ikrar kemahasiswaan (Sumpah Mahasiswa). Materi ini merupakan bagian dari pengenalan kemahasiswaan dan analisis kebijakan publik.

Selain itu, faktor pendukung lainnya yakni materi dasar ilmu sosial yang membentuk bangunan pengetahuan kritis mahasiswa dengan memperbanyak bacaan wacana kiri. Termasuk di dalamnya kumpulan materi-materi sejarah gerakan perubahan sosial dan jejak perjuangan para tokoh inti revolusi.

Proses tingkat dasar dan menengah tidak jarang ditemukan pembelajaran sosialisme Ortodoks, sosialisme modern, hingga agenda-agenda revolusi. Perbendaharaan spirit advokasi kebijakan publik dirapikan dengan mengkaji berbagai isu sentral yang dianggap penting dalam mengkritisi kebijakan pemerintah.

[CUT]

Fungsi kritik seperti ini sangatlah dibutuhkan  oleh generasi muda ibu Pertiwi dalam mengontrol kaum elit yang mengancam perekonomian negara seperti kasus korupsi yang harus ditumpas. Bukan untuk pamer kegagahan, tapi untuk menyelamatkan negara dari keserakahan koruptor.

Dari Karl Marx bersama teman dekatnya Freidich Engels merupakan tokoh sosialisme yang diidolakan banyak generasi pegiat sosial. Termasuk dalam membahas perlawanan-perlawanan kelas proletariat terhadap kaum borjuis.

Meski banyak agenda Karl Marx yang gagal di lapangan, setidaknya Marx telah melakukan respon kritik terhadap para filosof dengan pemikiran materialisme.

Kritiknya berpandangan materilis yang dikenal materialisme history dan materialisme dialektis termasuk saat mengatakan bahwa "Para Filosof hanya menerjemahkan dunia, padahal yang seharusnya dilakukan adalah mengubah dunia". Pemikiran inilah yang dikaji oleh generasi pelanjut Marx (Marxis) dengan tema-tema properti.

Termasuk Vladimir Ilyich Lenin, Leon Trotsky, dan Joseph Stalin yang juga tokoh dalam revolusi Rusia dengan partai Bolshevik. Mao Tse Tung dengan gerakan Rakyat pedesaan dengan agenda kebudayaan, Negara, dan Pembebasan di Tiongkok.

[CUT]

Vhe Guvara dan Fedel Castro dalam penggulingan diktator Kuba. Lembede, Gaur, Rolihlala, dan kawan-kawan melakukan perlawanan terhadap imperialisme Inggris di Johannesburg Soult Afrika.

Gambaran dari sebagian agenda perlawanan proletariat tersebut mungkin telah mewarisi spirit gerakan mahasiswa Indonesia. Seperti spirit aktivis angkatan 66 di bawah komando sang Presidium ZAMRONI (Bang Sam) hingga Reformasi yang menumbangkan Pemerintahan otoriter Orde Baru tahun 1998.

Gerakan itu memang perjuangan yang menghantarkan rakyatnya pada titik pembebasan dan merdeka. Namun setelah merdeka dalam gerakan perlawanan, tugas besarnya selanjutnya adalah membangun sistem baru yang inovatif. Generasi berikut inilah yang disebut sebagai pengisi kemerdekaan.

Selanjutnya, akankah kita mengisi kemerdekaan dengan agenda revolusi lagi (merevolusi hasil revolusi)? Sepertinya tidak, membangun kekuatan revolusi tak semudah membalikkan telapak tangan. Agenda revolusi dilakukan dengan guna menjebol keserakahan sistem pemerintahannya.

Karena sistem otoriter sudah tak releva lagi dengan kebutuhan rakyat, maka harus diganti dengan keterbukaan dan kerja sama antara pemerintah dengan rakyat seperti sistem demokrasi. Jika pun dalam agenda demokrasi telah terjadi kecurangan oleh pihak pemerintah, maka yang harus diganti adalah, pemerintah atau kabinetnya, bukan sistemnya.

[CUT]

Pasca revolusi Prancis, beberapa kabinet dalam proses pembangunan sistem baru di pemerintahan diganti dan terus dilakukan evaluasi hingga menemukan titik cerah dan inovasi di masa pemerintahan Napoleon Bonaparte, bukan merevolusi lagi.

Karena pada dasarnya, proletariat anarkis terhadap kaum borjuis dikarenakan mereka gidak punya akses dalam komunikasi dan terhalang oleh tembok otoriter.

Sementara setelah revolusi Prancis, pemerintahan sudah berbalik 180° dan masayarakat sudah memiliki kesempatan untuk mengajukan gagasan secerdas-cerdasnya, bukan gagah-gagahan mencercah secercah-cercahnya.

Paulo Friere juga hadir sebagai tokoh terkenal yang melakukan revolusi di bidang pendidikan. Gerakannya lebih mengarah pada pemberantasan buta huruf. Aksi protes Friere terhadap pemerintah yakni dengan melancarkan gerakan pendidikan alternatif.

Selain itu, Friere juga mengubah kurikulum pendidikan saat diangkat menjadi menteri pendidikan. Sementara beberapa tahun di akhir hidupnya digunakan untuk menjadi pembicara internasional dan menulis.

[CUT]

Ciri didikan dan gerakan perlawanannya memang gak melahirkan murid yang jago berorasi dan Parlemen jalanan, tapi berpengaruh pada pembaharuan intelektual dan kesadaran.

Contoh lain dari revolusi besar dunia yakni pada awal abad 20. Telah muncul gaya baru yang lebih dingin dalam menyulut perjuangan dalam agenda revolusi. Mahatma Gandhi memimpin Revolusi dengan Cinta/ Ahimsa, Satyagraha, dan Swadesi dengan perlawanan tanpa kekerasan.

Bentuk gerakannya sangat solid dengan berpuasa untuk tidak membeli produk asing hingga kaum penjajah bangkrut dan menyerah dengan sendirinya, bukan dengan jalan kekerasan melainkan memaafkan kaum imperialis yang hendak menjajajahnya.

Semoga bentuk-bentuk revolusi yang telah disulut oleh tokoh revolusioner di panggung sejarah, meningkatkan animo generasi untuk melakukan hal yang serupa. Tapi teriakan tersebut harus jelas, bukan menjadikan teriakan Parlemen jalanan sebagai ajang unjuk gigi.

Pun bukan hanya untuk numpang eksis dan turun tanpa memahami dulu subtansi yang diperjuangkan. Karena aksi yang diinginkan adalah gerakan perjuangan yang nyata memiliki target aksi. Gerakan antara generasi demonstran angkatan 66, demonstran 98, dan deminstran hari ini, bukan sekedar sayembara revolusi.

Akankah ada inovasi manusia masa kini dalam melakukan agenda perubahan sosial dengan wajah kreatif? Ataukah dinamika ilmu pengetahuan sudah tidak lagi berkembang dan mempersiapkan langkah-langkah strategis tersebut? Lantas, bagaimana kita mempersiapkan diri menyambut Revolusi Industri 4.0?

Sebaiknya harus ada, karena wajah revolusi mencerminkan kualitas dan kecerdasan revolusionernya.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI