Penduduk Miskin di Bone Capai 77 Ribu Jiwa, Pengamat: Ini Solusinya!

11/10/2020 | 20:10 WIB

Bagikan:


INSTINGJURNALIS.Com--
Pemerintah Kabupaten Bone di masa kepemipinan Andi Fashar Mahdin Padjalangi dan Ambo Dalle (Tafa'ddal) masih mempunyai tanggungjawab besar dalam upaya pengentasan kemiskinan. Sebab, tahun 2019 penduduk miskin mencapai 77 ribu jiwa.


Penduduk miskin yang ada di Kabupaten Bone bahkan sudah menjadi fenomena. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulsel, periode 2019 penduduk miskin di Bumi Arung Palakka mencapai 10,6 persen dari total 806.889 penduduk. Jumlah itu tidak jauh beda dalam tiga terakhir yang selalu menyentuh di atas angka 70 ribu.


Menanggapi hal itu, pengamat sosial Kabupaten Bone, Andi Muh. Zaidil SE mengatakan kesulitan ekonomi di masyarakat tentu menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya kemiskinan di Kabupaten Bone. Kesulitan ekonomi merupakan akibat dari tingkat pengangguran, sedangkan pengangguran dan kemiskinan merupakan fenomena yang berkaitan satu sama lain. 


Olehnya, upaya yang harus dilakukan dalam perbaikan pengentasan kemiskinan harus ditopang oleh kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah pembentukan sistem zonasi potensi di setiap daerah kecamatan.


"Inilah yang terjadi di Kabupaten Bone tidak ada pemetaan terhadap potensi di setiap wilayah kecamatan. Harusnya pemerintah melakukan pemetaan zona potensi dan didukung oleh kebijakan pemerintah," kata Andi Muh Zaidil, Selasa (10/11/2020).


Misalnya, lanjut alumni Universitas Hasanuddin itu, salah satu potensi yang ada di Kabupaten Bone adalah pertanian jagung. Pemberdayaan terhadap petani jagung di Kabupaten Bone merupakan contoh riil yang harus diaplikasikan.


Melihat luas area pertanian jagung di Kabupaten Bone mencapai 35 ribu hektar dan setiap tahun di panen dua kali. Olehnya, pemerintah seharusnya mempersiapkan industri pengelolaan.


"Inilah yang kami pertanyakan, di tengah stok jagung yang mencapai 175 ribu ton per sekali panen, seharusnya disini pemerintah hadir dan mengambil peran penting dengan menghadirkan wadah atau industri terhadap pengelolaan jagung ini, sehingga jagung tidak perlu dikirim keluar dan hal ini meminimalisir permainan harga," lanjutnya.


Tentu pertanyaan selanjutnya apa yang dihasilkan dari pengelolaan jagung itu. Maka jawabannya adalah pakan sebagai salah satu kebutuhan peternak. Setidaknya ada ribuan peternak ayam di Kabupaten Bone tentunya mempunyai kebutuhan pakan yang tidak sedikit.


"Kenapa pemerintah tidak hadir di sini, dengan membuat industri pengelolaan jagung jelas meningkatkan lapangan kerja yang berimplikasi terhadap penuruan angka pengangguran," tambah Ketua Gerakan Ekonomi Nasional Kabupaten Bone itu.


Langkah ini dapat dilakukan pemerintah daerah sebagai rencana jangka panjang, serta mempengaruhi pendapatan masyarakat secara cepat dan memberi manfaat secara bertahap.


"Itu hanya satu item saja, belum lagi pemberdayaan UMKM, pembentukan kawasan industri sebagai distributor barang ke provinsi tetangga, pemberdayaan petani rumput laut, peningkatan potensi wisata, itu beberapa item yang harusnya dikembangkan," tutupnya.



(Ram)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI