Bahaya HIV AIDS: Perhatian Yang Tak Boleh Luput

12/02/2020 | 21:34 WIB

Bagikan:

 Peringatan Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day)  telah usai kemarin, tanggal 1 Desember 2020. Tetapi perlawanan terhadap penyakit mematikan ini, akan terus berlangsung waktu-waktu yang akan datang.

Oleh: drg. Irfan Aryanto

Peringatan Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day)  telah usai kemarin, tanggal 1 Desember 2020. Tetapi perlawanan terhadap penyakit mematikan ini, akan terus berlangsung waktu-waktu yang akan datang.  


Sejak penyakit ini ditemukan 38 tahun yang lalu, grafik angka korban, baik yang  positif dan meninggal, terus mengalami peningkatan pesat. Akumulasi pada tahun 2019, WHO menilai 38 juta korban pengidap HIV AIDS berada disekitaran kita. 


Dikutip dari Health.grid.id, kampanye hari HIV AIDS Sedunia 2020 mengusung tema “Global Solidarity. Resilient Services” dengan tujuan menghadirkan penghargaan dan apresiasi kepada orang-orang yang bekerja memberikan pelayanan kepada para pengidap HIV AIDS.  


Terlebih di masa pandemik Covid-19 ini, kegiatan pendampingan dan penguatan kepada para pengidap HIV/AIDS harus terus berlangsung. 

Hal senada dengan  dikatakan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, bahwa di tengah kondisi pandemik saat ini, persoalan HIV/AIDS tidak boleh luput dari perhatian. 


Terlebih lagi, HIV/AIDS di Indonesia masuk dalam kategori darurat. Seperti dilaporkan Ditjen P2P Kemenkes RI pada tanggal 27 Agustus 2019, memperlihatkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS mendekati angka setengah juta atau 500.000 yaitu 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS.


Dalam upaya menekan angka HIV / AIDS di Indonesia, strategi promotif dan preventif, yang menekankan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan bahaya penyakit seksual, menjadi ujung tombak. Pendidikan seksual dalam aspek  kesehatan dan agama terhadap para remaja, teramat penting guna menghentikan putaran lingkaran penularan HIV AIDS.


Bukan persoalan mudah mengubah mindset, mengingat  perkembangan teknologi yang kian liar dalam globalisasi hari ini. Saluran melimpah di dunia jagat, memungkinkan orang-orang menyerap semua tanpa batas, tanpa aturan dan tanpa filter. 


Tarik menarik pengaruh akan berpotensi hadir disemua kalangan umur. Dan, itu pertanda malapetaka bisa saja terjadi dalam memandang soalan seksual dan penggunaan jarum suntik yang tidak tepat. Realitas ini, harus di akui, menambah beratnya tantangan menghadapi HIV/AIDS oleh tenaga kesehatan, relawan dan penggiat anti HIV/AIDS. 


Walaupun sejak 1990-an, penyakit ini pertama kali dideteksi pada manusia, HIV AIDS ternyata baru bisa dikendalikan, bukan disembuhkan. Dilansir dari Healthline pada tanggal 24 April 2020, pengobatan utama untuk HIV hari ini adalah dengan mengkonsumsi obat yang disebut ARV atau antiretroviral. 


Tetapi perlu disadari, obat ARV tidak menyembuhkan HIV, namun dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh penderita, sehingga memberi kesempatan kepada sistem kekebalan tubuh untuk kuat melawan penyakit. Mereka yang mengidap penyakit HIV/AIDS harus mengkonsumsi obat ARV seumur hidupnya. Bukan hal mudah, karena harus dikonsumsi pada waktu dan cara yang tepat, serta beberapa laporan menunjukkan efek samping kepada beberapa penderita HIV AIDS. 


Sejujurnya, dampak mengerikan penyakit HIV AIDS masih kalah pamor dibanding rasa penasaran para remaja. Maka muncullah, perilaku yang dapat mendorong lahirnya HIV AIDS. Terbukti, pada kelompok umur 20-29 tahun, penyebaran HIV AIDS masih tinggi. 


Di sini, faktor penyebab berasal dari berbagai arah, bisa berasal dari keluarga, penggunaan teknologi tanpa aturan, faktor pergaulan bebas, atau watak yang ingin mencoba-coba secara kebablasan. Secara kekinian, Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) masih mendapat image negatif dikalangan masyarakat sehingga cenderung dijauhi dan dikucilkan. 


Kesadaran seperti ini perlu diluruskan melalui komunitas komunitas dalam mematahkan beberapa anggapan masyarakat yang tidak benar. Di sini jelas, meniadakan peran keluarga dalam memberantas HIV AIDS sangat mustahil. 


Sebanyak apapun komunitas pita merah yang terbentuk, bila keluarga abai dengan ancaman penyakit HIV AIDS, maka semuanya isapan jempol belaka. Maka, kegiatan edukasi dan promosi terhadap bahaya HIV AIDS , mesti menjangkau seluruh anggota keluarga agar pemahaman tumbuh secara bersama disertai usaha melindungi sesama. 


Dokter Gigi Di Puskesmas Lappae

Penulis Advertorial di Klikdokter.com

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI