Minimnya Daerah Serapan dan Drainase yang Rusak Sebabkan Banjir di Kota Watampone

6/07/2020 | 18:47 WIB

Bagikan:

INSTINGJURNALIS.Com--Hujan deras yang terjadi di Kota Watampone dan sekitarnya menyebabkan sejumlah sungai meluap. Sejumlah pihak pun menyebutkan banjir di permukiman warga terjadi karena resapan air yang berkurang. Berkurangnya resapan ini akibat adanya pembangunan di sekitar aliran sungai.

"Yang menyebabkan banjir berkurangnya wilayah yang sifatnya tempat serapan air di Kabupaten Bone," kata A.M Zaidil, Sabtu (06/06/2020).

Menurutnya, Kerusakan lingkungan berupa alih fungsi lahan jadi faktor penting terjadinya bencana tersebut. Padahal, daerah persawahan jadi salah satu tempat ideal menangkap air.

Jadi salah satu faktor, Banjir di Bone disebabkan alih fungsi lahan, membuat area tangkapan air turut berkurang.

"Perubahan fungsi lahan mungkin karena ada sejumlah lahan persawahan diubah jadi lahan perumahan. Intinya adalah peralihan fungsi yang tadinya sawah konservasi berubah ke lainnya," ucap Zaidil.

Seperti misalnya, aliran bendungan Palakka tembusan sungai di Jalan Ahmad Yani, Dr Wahidin dan Jalan Majang dan Jl A.Mangenre yang selanjutnya pintu air di Malowi menuju ke timur kota melawati Polres Bone, di bagian hilirnya terdapat pembangunan perumahan yang mana daerah itu berfungsi serapan air sementara menuju ke daerah resapan air (DAS) Tippulue dan DAS Taneteriattang (RTRW) semua bermuara ke timur kota menuju ke laut.

"Itu yang menyebabkan banjir di Kota Watampone, karena daerah resapan dijadikan lahan pemukiman," tutup Zaidil.

Hujan deras mengguyur sebagian wilayah di Kabupaten Bone, Sabtu (6/6/2020). Akibatnya sejumlah titik terendam banjir.

Berdasarkan penelusuran sejumlah titik di Kota Watampone yang terendam banjir antara lain, Jl Dr Wahidin, Jl Lapawawoi, Jl Majang Jl.A.Mangenre dan Kantor Polres Bone

(Muhammad Irham)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI