ASI Eksklusif adalah perjuangan kita semua

8/04/2021 | 10:15 WIB

Bagikan:

 

ASI Eksklusif adalah perjuangan kita semua


“Ditulis dalam rangka peringatan Pekan Menyusui Sedunia 1-7 Agustus 2021”


Oleh: drg. Irfan Aryanto


Mencerna falsafah dalam kesehatan, terkadang menyadarkan kita arti pentingnya hidup yang baik. Apalagi hari-hari yang berat sedang kita hadapi, kembali menggugah nurani untuk menyusun ulang definisi kesehatan yang sesungguhnya.  


Salah satu falsafah yang mesti diulang adalah menyusui merupakan dasar kehidupan. Bukan rahasia lagi bila pemenuhan hak bagi ibu dan anak didapatkan  dengan pemberian ASI, khususnya bayi berusia 0-6 bulan. 


Banyak hal yang bisa tergantikan dalam hidup ini, tetapi fungsi pemberian ASI tidak dapat tergantikan oleh makanan dan minuman apa pun, sebab ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. 


Bukti eksperimental menyebutkan , menyusui merupakan metode terbaik  dalam pemberian gizi kepada bayi dalam hari-hari pertama kehidupannya. Sehingga, pemerintah dan Organisasi kesehatan internasional secara khusus memberikan perhatian kepada kegiatan menyusui dengan menjadikan tanggal 1-7 Agustus 2021 sebagai Pekan Menyusui Sedunia. 


Dalam kalender kesehatan, gerakan menyusui yang dipromosikan di awal bulan agustus  merupakan bentuk dukungan riil dan perlindungan kepada para ibu agar bisa menyusui dengan rasa aman dimana saja tanpa khawatir menjadi objek tontonan. 


Salah satu turunannya adalah terbitnya peraturan tentang Hak Ibu Menyusui di Indonesia berupa penyediaan ruang menyusui di tempat umum dan perkantoran. Tema pekan Menyusui sedunia tahun ini memotret kata “Protect breastfeeding: a shared responsibility” atau perlindungan menyusui merupakan tanggung jawab bersama.  


Tema ini memiliki artian agar semua komponen dalam keluarga dan masyarakat mengambil peran yang sama dalam mendorong proses pemberian ASI berjalan lancar. Begitu besarnya peran menyusui dalam kelangsungan hidup, sehingga bukan hanya ibu dan bayi yang berperan tapi seluruh elemen, bahu membahu, bergotong royong agar menyusui menjadi perhatian untuk diprioritaskan.


Mengapa tema ini di anggap penting? Karena menurut grafis WHO dan UNICEF, peningkatan  angka ibu menyusui secara global berpotensi menyelamatkan nyawa lebih dari 820.000 anak usia balita dan mencegah penambahan 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahunnya.

Namun di Indonesia, hanya 1 dari 2 bayi berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif dan hanya sedikit lebih dari 5 % anak yang masih mendapatkan ASI pada usia 23 bulan. Artinya hampir setengah dari seluruh anak Indonesia tidak menerima gizi yang mereka butuhkan selama dua tahun pertama kehidupan. 


Sebanyak lebih dari 40 % bayi diperkenalkan terlalu dini kepada makanan pendamping ASI, yaitu sebelum mereka mencapai usia 6 bulan dan makanan yang diberikan sering kali tidak memenuhi kebutuhan gizi bayi (Sumber: Media Indonesia). 


Kondisi ini diperparah dengan pandemik yang mengganggu pelayanan esensial seperti konseling menyusui di fasilitas kesehatan, bahkan beberapa informasi tidak tepat ikut menurunkan angka ibu menyusui karena para ibu khawatir menularkan penyakit kepada bayi mereka. 


Faktanya, studi  yang dikeluarkan The Lancet Child and Adolescent Health menemukan  bahwa ibu dengan covid 19 bisa dengan aman menyusui bayinya tanpa menularkan virus. Penelitian tersebut melibatkan 120 orang bayi yang baru dilahirkan oleh ibu yang positif COVID 19. 


Itu artinya, proses menyusui bisa terus berlangsung dengan alasan ASI merupakan nutrisi utama dalam meningkatkan daya tahan tubuh anak guna melindungi dari berbagai penyakit termasuk covid 19.  


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusui selama pandemik ini adalah ibu menyusui mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun terlebih dahulu sebelum menyusui. 


Semua bagian tangan tercuci hingga bersih termasuk pergelangan tangan dan sela-sela jari. Ibu menyusui juga membersihkan puting payudara dan berganti pakaian yang bersih saat akan menyusui si kecil. Tidak lupa pula penggunaan masker oleh ibu ketika proses menyusui berlangsung. 


Akhirnya, kita semua harus memahami kegiatan menyusui bukan sekedar pemberian gizi , tetapi lebih dari itu mengencangkan ikatan emosional antara ibu dan anak. Dengan di tunjang pola asuh yang tepat, maka anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal demi meraih masa depan yang gemilang.  


Maka hingga tanggal 7 Agustus, kita semua wajib menjadikan moment ini guna meningkatkan kepedulian dan kesadaran semua pihak terhadap pentingnya menyusui bayi hingga 2 tahun. Bayi sehat, generasi kuat insyaAllah bisa kita raih.

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI